Padang Panjang – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) bergerak cepat memeriksa Jembatan Kembar Silaing di Padang Panjang, Sumatera Barat, pasca-banjir bandang dan longsor 27 November 2025. Pengecekan meliputi struktur jembatan dan tebing Sungai Batang Anai.
Tujuannya adalah memastikan keselamatan dan konektivitas jalur nasional Padang-Bukittinggi. Menteri PU, Dody Hanggodo, menegaskan konektivitas jalan nasional adalah prioritas utama dalam penanganan pascabencana.
"Jalur Padang-Bukittinggi adalah urat nadi pergerakan orang dan barang di Sumatera Barat," kata Dody, Rabu (24/12/2025). Jalan tersebut dibuka terbatas karena masih dalam proses perbaikan. Dody menambahkan, setiap langkah penanganan dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.
Aspek keselamatan dipastikan terpenuhi sebelum fungsi layanan dikembalikan penuh. Jembatan kembar merupakan titik krusial pada Jalur Nasional Padang-Bukittinggi, menghubungkan Kota Padang dengan Bukittinggi. Keberadaan jembatan ini vital bagi mobilitas masyarakat, distribusi logistik, dan aktivitas ekonomi di Sumatera Barat, khususnya di Lembah Anai.
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumbar, Elsa Putra Friandi, menjelaskan bahwa setelah banjir bandang, Kementerian PU melalui BPJN melakukan pengecekan awal struktur jembatan kembar. Hasil evaluasi menunjukkan tidak terjadi penurunan kondisi struktur jembatan setelah banjir.
Namun, perlu dilakukan proteksi terhadap oprit dan pilar jembatan yang tergerus arus banjir. Inspeksi dilakukan komprehensif terhadap seluruh komponen jembatan, mulai dari pondasi, pilar, abutmen, gelagar, hingga lantai jembatan yang berpotensi terdampak arus deras dan material longsoran.
Tim juga menilai stabilitas tanah di sekitar pilar dan abutment untuk memastikan tidak terjadi penurunan atau pergeseran yang membahayakan. "Untuk sementara, jembatan dioperasikan dengan skema terbatas, di mana sisi A dibuka untuk lalu lintas, sementara sisi B ditutup sementara guna mendukung proses inspeksi dan pengamanan struktur," pungkas Elsa.


