Jakarta – Keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mempertahankan status Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market pada Global Market Accessibility Review 2026 dinilai sebagai momentum strategis untuk mengakselerasi reformasi pasar modal nasional. Meskipun MSCI memberikan catatan khusus terkait aspek arus informasi (information flow), langkah ini dianggap sebagai sinyal positif bagi daya tarik investasi jangka panjang di dalam negeri.
Global Chief Economist Juwai IQI, Shan Saeed, menyatakan bahwa perhatian dari lembaga indeks global tersebut seharusnya dipandang sebagai katalis untuk memperkuat transparansi dan efisiensi regulasi. Menurutnya, pasar modal yang tangguh tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses perbaikan berkelanjutan seperti yang pernah dilakukan oleh negara-negara seperti Korea Selatan dan India.
“Sejarah menunjukkan bahwa pasar modal yang sukses dibangun melalui proses perbaikan berkelanjutan. Korea Selatan dan India memperkuat daya saing pasar mereka melalui modernisasi regulasi, peningkatan tata kelola, dan transparansi yang lebih baik. Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan hal tersebut,” ujar Shan dalam keterangannya, Jumat (19/6).
Lebih lanjut, Shan menyoroti bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah ketidakpastian global. Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang stabil, struktur demografi yang produktif, disiplin fiskal yang ketat, serta kekayaan sumber daya alam menjadi pilar yang mendukung posisi tawar Indonesia di mata investor internasional. Di saat banyak negara maju mencatatkan pertumbuhan ekonomi terbatas pada kisaran 1 hingga 2 persen, Indonesia mampu mempertahankan ekspansi di atas 5 persen.
Data ekonomi kuartal I 2026 mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,61 persen. Capaian ini menempatkan Indonesia di jajaran negara dengan pertumbuhan tercepat di kawasan ASEAN maupun kelompok G20. Pertumbuhan tersebut didorong kuat oleh konsumsi rumah tangga yang berkontribusi lebih dari setengah PDB dengan pertumbuhan 5,52 persen, serta realisasi investasi yang menyentuh angka Rp498,8 triliun pada periode yang sama.
Selain sektor riil, stabilitas sektor eksternal juga menunjukkan ketahanan yang signifikan. Cadangan devisa Indonesia tercatat mencapai USD146 miliar pada akhir Mei 2026, sementara rasio utang pemerintah yang tetap terjaga di bawah 40 persen terhadap PDB memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pemerintah untuk merespons dinamika ekonomi global.
Shan menekankan bahwa investor global saat ini mencari tiga indikator utama yakni pertumbuhan, stabilitas, dan skala pasar. Indonesia dinilai mampu memenuhi ketiga kriteria tersebut dengan dukungan pasar domestik yang mencapai 285 juta jiwa. Ia menambahkan bahwa ekonomi besar tidak hanya diukur dari sorotan pasar, melainkan kemampuan suatu negara dalam mengonversi sorotan tersebut menjadi reformasi nyata, yang kemudian membangun kepercayaan investor dan memicu pembentukan modal jangka panjang.
“Trajektori Indonesia menunjukkan bahwa negara ini sedang melakukan hal tersebut. Di tengah ekonomi global yang semakin terfragmentasi, Indonesia tetap menjadi salah satu negara yang menawarkan stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan paling menarik di kawasan,” ungkapnya. Dengan mempertahankan status di Emerging Market, Indonesia kini memiliki waktu dan peluang untuk menindaklanjuti catatan MSCI terkait arus informasi guna meningkatkan standar aksesibilitas pasar bagi pelaku pasar modal global.

