IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Bos GOTO Tanggapi Dampak Komisi 8% Terhadap Kinerja Perusahaan

Direktur Utama GOTO Hans Patuwo memberikan penjelasan terkait dampak regulasi komisi 8 persen terhadap kinerja perusahaan
Direktur Utama GOTO Hans Patuwo menanggapi dampak kebijakan komisi 8 persen terhadap kinerja keuangan perusahaan.

Jakarta, Gonesia.com – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) melakukan penyesuaian target kinerja keuangan tahun 2026 menyusul pemberlakuan regulasi baru pemotongan komisi aplikasi sebesar 8 persen.

Kebijakan yang tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026 tersebut memaksa perusahaan melakukan revisi proyeksi pada lini bisnis On-Demand Services (ODS).

Direktur Utama GOTO, Hans Patuwo, menyatakan bahwa meski aturan tersebut memberikan tekanan pada pendapatan dari layanan transportasi roda dua, operasional perusahaan sejauh ini tetap terjaga.

Ia mengungkapkan dalam paparan kinerja kuartal II-2026 pada Rabu (29 Juli 2026) bahwa dampak perubahan komisi akan mulai terlihat signifikan pada laporan keuangan periode mendatang.

“Dampak dari perubahan komisi ini akan terlihat pada laporan keuangan kuartal ketiga. Namun, setelah satu bulan berjalan, kondisi bisnis tetap stabil,” tutur Hans.

Pendapatan Astra Agro Lestari (AALI) Naik 5,62% di Semester I 2026

Konsekuensi dari penetapan aturan baru tersebut adalah pemangkasan target Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization (EBITDA) yang disesuaikan untuk sektor ODS.

Manajemen menurunkan target EBITDA sektor ODS dari proyeksi awal sebesar Rp1,7–1,8 triliun menjadi Rp1,4–1,5 triliun.

Penurunan target pada lini bisnis transportasi ini ternyata mampu diredam oleh performa impresif dari sektor teknologi keuangan atau fintech melalui Gopay.

Lini bisnis fintech kini diposisikan sebagai pilar utama yang menopang stabilitas arus kas perusahaan di tengah tantangan regulasi transportasi.

Data kinerja kuartal kedua menunjukkan pertumbuhan pendapatan bersih Gopay melesat hingga 53 persen secara tahunan (year-on-year) dengan nilai menembus Rp2,0 triliun.

KPPU Awasi Persaingan Usaha Pasca Putusan MK Soal Kuota Internet

Sebagai perbandingan, pertumbuhan pendapatan bersih pada sektor ODS tercatat lebih lambat, yakni berada di angka 20 persen secara tahunan atau mencapai Rp3,6 triliun.

Profitabilitas unit bisnis fintech bahkan telah melampaui sektor transportasi dalam hal kontribusi laba operasional perusahaan.

EBITDA yang disesuaikan dari bisnis fintech melonjak tajam hingga 447 persen secara tahunan hingga mencapai Rp481 miliar.

Capaian tersebut resmi melampaui EBITDA yang disesuaikan milik ODS Gojek yang berada di angka Rp464 miliar.

Melihat tren positif tersebut, manajemen GOTO memutuskan untuk meningkatkan target EBITDA yang disesuaikan untuk divisi fintech menjadi Rp1,7–1,8 triliun.

IHSG Diprediksi Kembali Melemah, Cek Rekomendasi Saham INCO dan BBCA

Target ini sebelumnya hanya dipatok pada angka Rp1,4–1,5 triliun sebelum unit bisnis tersebut menunjukkan performa di atas ekspektasi.

Strategi diversifikasi ini membuat perusahaan tetap percaya diri dalam menjaga target EBITDA konsolidasi di rentang Rp3,2–3,4 triliun hingga akhir tahun 2026.

Ketergantungan terhadap bisnis transportasi kini berangsur berkurang seiring dengan penguatan fundamental pada ekosistem keuangan digital yang dikelola GOTO.

Langkah ini menjadi bukti keberhasilan manajemen dalam menyeimbangkan portofolio bisnis di tengah ketidakpastian regulasi yang dinamis.

Komentar