MILFORD, Gonesia.com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengonfirmasi bahwa saat ini sedang berlangsung upaya diplomasi melalui perundingan yang bersifat bersahabat antara Washington dan Teheran untuk meredakan ketegangan yang kian memuncak.
“Kami memukul mereka dengan keras, tetapi kami akan melihat bagaimana akhirnya. Saat ini, mereka terlibat dalam perundingan yang sangat bersahabat,” ujar Trump dalam pidatonya di Milford, Michigan, Selasa (28/7), sebagaimana dilaporkan JawaPos melalui jaringan berita Antara.
Ia menambahkan bahwa pihak Iran telah melayangkan permintaan resmi kepada pemerintah Amerika Serikat agar blokade laut yang selama ini diterapkan segera dicabut.
Posisi tawar Iran tersebut muncul di tengah tekanan ekonomi yang intensif akibat kebijakan blokade yang diberlakukan oleh Washington di wilayah perairan strategis tersebut.
Laporan dari Axios pada Sabtu (25/7) menyebutkan bahwa Trump sempat menginstruksikan penghentian serangan lanjutan terhadap target-target di Iran.
Keputusan tersebut secara efektif mengakhiri rentetan serangan militer yang telah dilancarkan secara berturut-turut selama 13 hari terakhir.
Sebelumnya, pada Senin (27/7), Trump mengungkapkan bahwa pihak Iran telah mengajukan keinginan untuk melakukan pertemuan tingkat tinggi dengan pemerintah Amerika Serikat.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa opsi militer tetap menjadi pilihan cadangan jika proses negosiasi yang sedang berjalan ini berakhir dengan kegagalan.
Ketidakpastian geopolitik ini berakar dari situasi yang sangat fluktuatif sejak awal tahun 2026.
Pada 18 Juni lalu, kedua negara sebenarnya sempat menandatangani memorandum perdamaian guna menghentikan konflik bersenjata yang pecah sejak 28 Februari.
Namun, kesepakatan tersebut tidak bertahan lama karena pasukan Amerika Serikat kembali melancarkan serangan terhadap Iran mulai 8 Juli.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) berdalih bahwa langkah militer tersebut merupakan tindakan balasan atas gangguan yang dilakukan Iran terhadap kapal-kapal dagang di Selat Hormuz.
Sebagai respons, pasukan Iran membalas dengan melancarkan serangan terhadap berbagai pangkalan militer Amerika Serikat yang tersebar di wilayah Timur Tengah.
Situasi semakin memanas ketika pada 12 Juli, pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan Selat Hormuz bagi pelayaran internasional.
Penutupan tersebut akan terus berlaku hingga seluruh campur tangan militer Amerika Serikat di kawasan tersebut benar-benar berakhir.
Sebagai tanggapan atas langkah tersebut, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memosisikan diri sebagai “pelindung” Selat Hormuz guna memastikan keamanan jalur perdagangan.
Ia juga mengumumkan dimulainya kembali blokade ketat terhadap pelabuhan-pelabuhan utama di Iran sebagai bentuk tekanan lanjutan dalam sengketa ini.
Dinamika antara kedua negara hingga kini masih berada dalam fase krusial yang menentukan stabilitas keamanan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan.


