IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

IHSG Melemah, FTSE Russell Pertahankan Status Indonesia

IHSG tak bergeming walau FTSE Russell pertahankan status RI

JAKARTA – Keputusan FTSE Russell mempertahankan Indonesia di kategori Secondary Emerging Market belum cukup mengangkat sentimen pasar pada perdagangan Rabu (7/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup melemah 0,75% ke level 6.146,72, dengan tekanan datang dari 390 saham yang turun, sementara 280 saham menguat dan 293 lainnya bergerak stagnan.

Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai respons pasar terhadap pengumuman FTSE cenderung positif, tetapi efeknya terbatas. Ia menyebut kabar itu lebih banyak menghapus kekhawatiran investor ketimbang memicu masuknya dana baru ke bursa domestik.

“FTSE mempertahankan Indonesia di secondary emerging dan tidak memasukkannya ke daftar pantauan, jadi kekhawatiran penurunan status di FTSE tersingkir tahun ini,” kata Wafi, Rabu (7/10/2026).

Meski demikian, Wafi menekankan bahwa keputusan tersebut belum mengubah banyak hal secara praktis. Tidak ada aliran dana baru yang otomatis masuk, sedangkan perubahan indeks untuk saham-saham Indonesia juga masih dibekukan sampai pembaruan menjelang tinjauan Desember.

“Yang lebih menentukan tetap MSCI November karena dana yang mengacu MSCI jauh lebih besar,” ujarnya.

BSBK Tebar Dividen Interim Rp 25,09 Miliar, Cek Jadwalnya

Menurut dia, langkah FTSE Russell bisa dibaca sebagai sinyal bahwa reformasi pasar modal Indonesia mendapat pengakuan. Kondisi itu, kata Wafi, setidaknya dapat memperbaiki peluang terhadap hasil MSCI yang tidak terlalu buruk.

FTSE Russell sebelumnya resmi mempertahankan status pasar modal Indonesia dalam kategori Secondary Emerging Market melalui pengumuman FTSE Equity Country Classification Annual Announcement periode September 2026 yang dirilis Selasa (6/10/2026). Dengan keputusan itu, Indonesia terhindar dari masuk daftar pantau atau watch list maupun penurunan status (downgrade).

Dalam pernyataan resminya, FTSE Russell menyebut masih akan memantau ketat implementasi serta efektivitas reformasi integritas pasar modal yang dijalankan otoritas Indonesia. Pemantauan itu dilakukan setelah sejumlah penyesuaian indeks untuk efek asal Indonesia ditunda pada tinjauan indeks periode Maret, Juni, dan September 2026.

FTSE juga memberi apresiasi atas rangkaian reformasi yang telah diterapkan di pasar saham Indonesia untuk mengatasi persoalan transparansi data dan keandalan replikasi indeks. Dalam pengumumannya, manajemen FTSE Russell menyebut Indonesia telah menjalankan berbagai langkah perbaikan, mulai dari peningkatan keterbukaan informasi pemegang saham, perluasan kategori klasifikasi investor, penerapan batas minimum saham beredar atau free float, hingga penguatan sarana pengawasan pasar.

FTSE menegaskan reformasi itu ditujukan untuk mendukung transisi yang stabil dan teratur menuju proses standard index review. Pembaruan berikutnya mengenai perlakuan terhadap saham-saham Indonesia dijadwalkan menjelang peninjauan indeks periode Desember 2026, dengan mempertimbangkan kemajuan reformasi pasar dan masukan dari pelaku pasar global.

IHSG Melemah, Asing Net Sell Rp663 Miliar dan Jual BBCA-GOTO-DEWA

“Status Secondary Emerging Market Indonesia tidak berubah. FTSE Russell tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List dan akan terus memantau perkembangan pasar serta berinteraksi dengan para pemangku kepentingan sebagai bagian dari penilaian berkelanjutan,” kata FTSE Russell.

Komentar