IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Tekanan Geopolitik dan Impor Bayangi Rupiah di Awal Pekan 27 Juli

Tampilan layar grafik pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di monitor keuangan
Nilai tukar rupiah diprediksi kembali tertekan akibat sentimen geopolitik dan kondisi neraca perdagangan.

Jakarta, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah diprediksi akan kembali menghadapi tekanan berat pada perdagangan awal pekan ini akibat kombinasi sentimen geopolitik global dan memburuknya fundamental neraca perdagangan domestik.

Mata uang Garuda saat ini berada dalam posisi rentan setelah pada penutupan akhir pekan lalu melemah 0,15% ke level Rp 17.963 per dolar Amerika Serikat.

Posisi kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mengonfirmasi tren pelemahan tersebut dengan menempatkan rupiah di angka Rp 17.973 per dolar AS.

Kondisi ini diperparah oleh kebijakan proteksionisme perdagangan yang diterapkan oleh pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, yang mengutip data KONTAN.CO.ID, menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar AS dipicu oleh pemberlakuan tarif impor baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap 60 negara mitra dagang.

Ketidakpastian Ekonomi Tekan Peringkat Kredit Korporasi Indonesia di 2026

Kebijakan tarif tersebut secara langsung berdampak pada stabilitas ekspor Indonesia ke pasar internasional.

Selain faktor kebijakan perdagangan, eskalasi konflik di Timur Tengah turut menjadi katalis negatif bagi pasar keuangan global.

Serangan kelompok Houthi terhadap dua tanker minyak Saudi serta penolakan proposal gencatan senjata oleh Iran telah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia.

“Eskalasi yang diperbarui membantu menaikkan harga minyak, sementara data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif,” ujar Ibrahim.

Ketidakpastian pasokan energi global kini semakin diperburuk oleh penghentian sementara operasional terminal ekspor di Kazakhstan.

Promo Pre-order Samsung Galaxy Foldable 8 dengan BRI Kartu Kredit

Gangguan suplai ini memaksa harga minyak mentah menembus target yang ditetapkan dalam APBN-P sebesar US$ 83 per barel.

Di dalam negeri, tekanan terhadap rupiah diperberat oleh kebutuhan impor energi yang melonjak hingga melampaui 1,5 juta barel per hari.

Kondisi tersebut secara langsung menggerus ketahanan eksternal Indonesia dan memicu kekhawatiran terhadap kinerja ekonomi pada kuartal III-2026.

“Kenaikan akibat konflik di Timur Tengah berpotensi menekan kinerja eksternal Indonesia, mulai dari melebarnya defisit neraca transaksi berjalan hingga tekanan terhadap nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026,” tutur dia.

Tekanan terhadap mata uang nasional semakin nyata setelah Badan Pusat Statistik mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$ 1,61 miliar.

KPBB Dorong Pemprov DKI Terapkan Pajak Emisi Pasca Penghapusan Insentif Kendaraan Listrik

Angka tersebut menjadi catatan buruk karena secara resmi mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah bertahan selama 72 bulan berturut-turut.

Lonjakan impor yang mencapai US$ 24,81 miliar atau naik 22,16% secara tahunan pada Mei 2026 menjadi faktor utama penyebab defisit tersebut.

Pemerintah sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026 akan melambat ke kisaran 5,4%.

Meski demikian, otoritas ekonomi tetap optimistis bahwa perbaikan akan terjadi pada semester II melalui penguatan likuiditas perekonomian nasional.

Untuk perdagangan Senin (27/7/2026), pergerakan rupiah diperkirakan akan sangat fluktuatif dengan kecenderungan melemah di rentang Rp 17.960 hingga Rp 18.020 per dolar AS.

Ia menambahkan, volatilitas pasar diprediksi akan membayangi pergerakan mata uang sepanjang pekan depan.

“Sedangkan range untuk minggu depan rupiah diperkirakan di level Rp 17.880–Rp 18.250,” lanjutnya.

Komentar