Ekonomi

Respons CTRA dan MTLA Terhadap Dampak Kenaikan Suku Bunga BI pada KPR

Jakarta – Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% memicu tekanan signifikan terhadap kinerja keuangan emiten sektor properti nasional. Sejumlah perusahaan pengembang besar memproyeksikan penurunan pendapatan dan laba bersih hingga dua digit sepanjang tahun 2026 akibat kebijakan moneter yang memperketat akses kredit pemilikan rumah (KPR).

PT Ciputra Development Tbk (CTRA) menjadi salah satu emiten yang merasakan dampak langsung dari kebijakan tersebut. Direktur Utama CTRA, Candra Ciputra, mengakui bahwa mayoritas penjualan perseroan sangat bergantung pada pembiayaan KPR. Kendati sebagian besar cicilan bersifat tetap dalam jangka panjang, kenaikan suku bunga tetap menjadi tantangan dalam menjaga volume penjualan. Untuk memitigasi risiko tersebut, perseroan berharap pada efektivitas insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP).

“Kami berharap dengan adanya PPN DTP, kinerja perseroan ke depan dapat tertolong,” ujar Candra dalam keterangan resminya.

Senada dengan hal tersebut, Direktur CTRA, Nanik J. Santoso, menegaskan bahwa perusahaan terpaksa melakukan penyesuaian harga jual sebagai strategi untuk mengejar target penjualan di tengah kenaikan biaya kredit. Langkah ini diambil sebagai upaya menyeimbangkan margin perusahaan di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, CTRA mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 21,57% menjadi Rp 518,30 miliar, sementara pendapatan turun menjadi Rp 2,55 triliun secara tahunan.

Sekretaris Perusahaan CTRA, Aditya Ciputra Sastrawinata, menambahkan bahwa penurunan pendapatan ini merupakan imbas langsung dari realisasi pra-penjualan (pre-sales) yang melambat pada tahun sebelumnya. Menurutnya, penurunan daya beli, terutama di segmen residensial menengah ke bawah, menjadi faktor utama yang menekan kinerja. Meskipun sektor properti investasi seperti mal dan rumah sakit menunjukkan pertumbuhan positif, kontribusinya belum mampu menutup defisit dari sektor perumahan.

Pemerintah Tunda Kenaikan Harga Tiket Pesawat Hingga Harga Avtur Stabil

Di sisi lain, PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) juga mencatatkan pelemahan kinerja dengan penurunan laba bersih sebesar 17,4% menjadi Rp 62,16 miliar pada kuartal pertama tahun ini. Direktur MTLA, Olivia Surodjo, menyatakan bahwa perusahaan tetap optimistis dalam mengejar target penjualan tahunan. Pihaknya mendorong perbankan untuk lebih fleksibel dalam menawarkan program KPR, seperti skema fix and cap, guna meringankan beban konsumen. Hingga saat ini, MTLA memilih untuk mempertahankan target penjualan yang telah ditetapkan sebelumnya sambil terus memantau dinamika pasar.

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, memprediksi bahwa BI akan mempertahankan suku bunga di kisaran 5,25% hingga 5,75% sepanjang tahun 2026 guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Meski demikian, Elandry menilai sektor properti masih memiliki daya tarik bagi investor jangka panjang. Ia menyarankan investor untuk lebih selektif dengan memilih emiten yang memiliki cadangan lahan (landbank) luas, neraca keuangan yang sehat, serta tingkat marketing sales yang konsisten di tengah tekanan suku bunga tinggi.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Pemko Padang Optimalkan Digitalisasi Bansos Tepat Sasaran

04

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

05

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

06

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

07

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

08

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

Berita Terbaru