Tangerang Selatan – Kualitas udara di Tangerang Selatan, Banten, kembali tercatat sebagai yang terburuk di Indonesia pada Jumat (26/6) pagi. Berdasarkan data pemantauan kualitas udara global IQAir per pukul 07.17 WIB, wilayah tersebut mencatatkan angka Air Quality Index (AQI) sebesar 181, yang menempatkan kota tersebut ke dalam kategori tidak sehat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Tingginya angka polusi ini menempatkan Tangerang Selatan di urutan pertama daftar wilayah dengan udara paling berpolusi di tanah air. Kondisi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari penduduk setempat, terutama bagi kelompok yang memiliki kerentanan fisik tinggi.
IQAir dalam laporannya menegaskan bahwa pada tingkat polusi yang tidak sehat, efek kesehatan dapat dirasakan oleh masyarakat umum. Kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, wanita hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru, menjadi segmen yang paling berisiko mengalami gangguan pernapasan maupun iritasi akibat paparan polutan di udara.
“Ketika kualitas udara dikategorikan tidak sehat, masyarakat umum, terutama kelompok yang sensitif, mungkin mulai mengalami efek kesehatan,” tulis IQAir dalam keterangan resminya.
Sebagai langkah mitigasi, pihak berwenang melalui Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker standar kesehatan sangat disarankan bagi warga yang harus beraktivitas di lokasi dengan tingkat pencemaran tinggi guna meminimalisir risiko paparan partikel berbahaya.
Buruknya kualitas udara tidak hanya terpusat di Tangerang Selatan. Beberapa kota besar lain di Indonesia juga menunjukkan angka polusi yang mengkhawatirkan. Tangerang menyusul di posisi kedua dengan AQI 174, diikuti oleh Surabaya dengan skor 169, Jakarta dengan skor 166, dan Bandung dengan skor 152. Seluruh wilayah tersebut saat ini berada dalam kategori kualitas udara tidak sehat.
Secara global, kondisi udara di Indonesia pun menjadi sorotan. Jakarta, misalnya, tercatat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk kedua di dunia pada waktu yang sama, hanya terpaut tipis dari Kampala, Uganda, yang berada di posisi puncak dengan skor AQI 167.
Sebagai pembanding, kota-kota besar di dunia seperti Kobe di Jepang dan Canberra di Australia memiliki indeks kualitas udara yang sangat baik dengan skor masing-masing 11, jauh di bawah ambang batas bahaya.
Perlu dipahami bahwa angka AQI dihitung berdasarkan konsentrasi enam polutan utama, yakni PM2.5, PM10, karbon monoksida, sulfur dioksida, nitrogen dioksida, dan ozon permukaan tanah. Indeks ini menggunakan skala 0 hingga 500, di mana kategori tidak sehat dimulai pada rentang 151 hingga 200. Jika indeks melampaui angka 300, kualitas udara dikategorikan berbahaya dan dapat menimbulkan dampak kesehatan serius bagi populasi secara luas. Hingga saat ini, upaya pengendalian emisi serta pemantauan kualitas udara secara berkala tetap menjadi instrumen penting bagi pemerintah dalam melindungi kesehatan publik dari ancaman polusi yang persisten.

