Ekonomi

Daya Beli Melemah, Menu Warteg Beralih dari Daging ke Sayuran

CIBINONG – Pelaku usaha kuliner kelas menengah, seperti warung tegal (warteg) dan rumah makan Padang, mulai merasakan dampak nyata dari penurunan daya beli masyarakat. Di tengah lonjakan harga bahan pangan, etalase warung kini lebih banyak dihiasi sayur dan lauk murah, sementara hidangan daging dan telur justru kerap tersisa hingga waktu tutup.

Perubahan pola konsumsi ini terlihat jelas di warung milik Ramdanti di Sukahati, Cibinong, Kabupaten Bogor. Konsumen kini lebih memilih menu tumisan atau ikan dibandingkan daging yang harganya berada di kisaran Rp7.000 hingga Rp10.000 per potong.

“Lauk-lauk daging sekarang kurang laris dan sering sisa. Dua tahun lalu saya berani menyajikan 50 potong ayam, sekarang hanya berani menyediakan 20 sampai 25 potong saja,” ujar Ramdanti.

Penurunan omzet pun tak terelakkan. Jika tahun lalu ia bisa mengantongi pendapatan kotor hingga Rp2 juta per hari, kini jumlahnya terus menyusut. Kondisi serupa terjadi di Jakarta Selatan, tepatnya pada Rumah Makan Padang Basalero di kawasan Kebayoran Baru.

Pemilik warung, Muhammad Fajri, mengungkapkan bahwa omzet hariannya merosot tajam dari Rp5 juta menjadi sekitar Rp2 juta, bahkan terkadang kurang. Padahal, modal operasional harian tetap tinggi, sehingga margin keuntungan menipis. Untuk bertahan, ia terpaksa memangkas produksi ayam dari 50 ekor menjadi hanya 10 ekor per hari, serta mengurangi jumlah karyawan.

Danantara Tegaskan Pembelian Patriot Bonds Bersifat Sukarela bagi Masyarakat

“Harga bahan baku naik, tapi daya beli pengunjung menurun. Kita tidak bisa menaikkan harga jual karena pelanggan bisa langsung kabur. Akhirnya, kami terpaksa melakukan efisiensi,” jelas Fajri.

Kenaikan harga minyak goreng menjadi salah satu beban terbesar bagi para pengusaha kuliner. Data Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan menunjukkan tren harga minyak goreng yang terus merangkak naik dibandingkan dua tahun lalu. Namun, para pedagang terjebak dalam dilema karena kenaikan harga jual justru akan menjauhkan pelanggan.

Fenomena ini dipicu oleh perubahan perilaku konsumen yang harus memprioritaskan anggaran untuk kebutuhan mendesak lainnya. Satya, seorang pekerja kantoran di Jakarta Selatan, mengaku harus mengetatkan pengeluaran makan siang akibat lonjakan biaya hidup, seperti biaya transportasi daring dan kebutuhan bulanan lainnya.

“Pengeluaran transportasi dan kebutuhan harian lain naik semua. Jadi, untuk makan siang, saya harus lebih hemat dan mengurangi porsi daging. Prioritasnya sekarang adalah agar uang cukup sampai akhir bulan,” tutur Satya.

Tekanan ekonomi yang beruntun ini membuat pelaku UMKM kuliner harus berjuang keras menjaga kelangsungan bisnis di tengah pasar yang kian lesu. Tanpa adanya perbaikan daya beli, ancaman gulung tikar kini membayangi banyak warung makan yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat kelas menengah bawah.

Harga turun 19%, saham MYOR siap beri dividen dengan yield 2x bunga deposito

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

04

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

05

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

06

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru