Jakarta – Bencana banjir dan tanah longsor dahsyat yang melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera telah menelan korban jiwa mencapai 776 orang. Tragedi ini, yang juga menyebabkan ratusan lainnya hilang dan ribuan luka-luka, dipicu oleh kombinasi cuaca ekstrem dan kerusakan ekosistem yang parah pada daerah aliran sungai (DAS) serta daerah tangkapan air.
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa fenomena alam tersebut diperparah oleh kerusakan lingkungan yang terjadi di wilayah terdampak. “Bencana ini terjadi akibat kombinasi beberapa faktor, yakni adanya siklon tropis Senyar, kondisi geomorfologi daerah aliran sungai, dan kerusakan pada daerah tangkapan air,” ujar Raja Juli dalam rapat bersama Komisi IV DPR pada Kamis, 4 Desember 2025.
Banjir bandang dan tanah longsor serentak menerjang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak Selasa, 25 November 2025. Di Aceh, musibah ini merendam 18 kabupaten/kota, meliputi separuh wilayah provinsi paling utara Sumatera tersebut.
Data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, selain 776 korban meninggal, sebanyak 564 jiwa dinyatakan hilang dan 2.600 jiwa mengalami luka-luka akibat bencana di ketiga provinsi tersebut. Angka ini mencerminkan skala kerusakan dan dampak kemanusiaan yang sangat besar.
Kementerian Kehutanan membeberkan hasil analisis mengenai kerusakan lingkungan di tiap wilayah. Di Aceh, teridentifikasi 70 titik banjir pada 31 DAS. Analisis citra satelit periode 2019-2024 menunjukkan perubahan tutupan lahan seluas 21.476 hektar dari hutan menjadi non-hutan, dengan rincian 12.159 hektar di dalam kawasan hutan dan 9.317 hektar di luar kawasan. Provinsi ini juga memiliki lahan kritis seluas 217.301 hektare, atau sekitar 7,1 persen dari total area terdampak.
Sementara itu, Sumatera Utara menghadapi 92 titik banjir di 13 DAS. Perubahan tutupan lahan di DAS wilayah ini mencapai 9.424 hektar, didominasi oleh area penggunaan lain. Raja Juli menambahkan, lahan kritis di Sumatera Utara yang terdampak banjir mencapai 207.000 hektare atau 14,7 persen.
Untuk Sumatera Barat, tercatat 56 titik banjir di 13 DAS. Perubahan lahan dari hutan menjadi non-hutan mencapai 1.821 hektare, yang mayoritas berada di kawasan hutan. Provinsi ini juga memiliki lahan kritis seluas 39.816 hektar, atau sekitar 7 persen dari total area terdampak bencana.


