IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Wall Street Melemah Jelang Rilis Laporan Keuangan dan Eskalasi Timur Tengah

Layar monitor menampilkan grafik pergerakan bursa saham Amerika Serikat yang melemah di Wall Street.
Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah di tengah ketidakpastian geopolitik dan antisipasi laporan keuangan emiten.

NEW YORK, Gonesia.com – Bursa saham Amerika Serikat menutup sesi perdagangan Senin dengan pelemahan di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan antisipasi investor terhadap laporan laba emiten raksasa teknologi.

Indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 307,16 poin atau 0,59% ke level 51.839,26 pada penutupan pasar 20 Juli 2026.

S&P 500 turut melemah sebesar 14,41 poin atau 0,19% menjadi 7.443,28.

Nasdaq Composite mengalami kontraksi tipis 12,17 poin atau 0,05% ke posisi 25.508,07.

Tekanan jual pada S&P 500 dipicu terutama oleh penurunan saham Apple Inc sebesar 2%.

Rupiah Menguat 0,80% Sepekan, Pasar Antisipasi Keputusan RDG BI

Sebaliknya, Microsoft muncul sebagai pendorong utama yang menahan kejatuhan indeks lebih dalam.

Di tengah sentimen negatif, saham Global Payments Inc mencatatkan kenaikan impresif sebesar 5,8%.

Lonjakan tersebut terjadi setelah Morgan Stanley meningkatkan peringkat saham perusahaan menjadi overweight dengan revisi target harga dari US$ 65 menjadi US$ 100.

Volume perdagangan di bursa AS tercatat mencapai 15,50 miliar saham.

Angka tersebut berada di bawah rata-rata volume perdagangan 20 hari terakhir yang mencapai 19,94 miliar saham.

Produksi Rokok Melonjak, Simak Prospek Kinerja Emiten di Sisa 2026

Sektor teknologi menunjukkan ketahanan relatif dengan Nasdaq mencatatkan penurunan lebih kecil dibanding indeks lainnya.

Pemulihan sektor chip dari kerugian pekan lalu menjadi faktor pendukung utama indeks teknologi.

Sektor layanan komunikasi dan energi juga mencatat kenaikan yang menopang pergerakan pasar.

Pasar kini tengah menanti rilis laporan keuangan kuartal kedua dari perusahaan-perusahaan skala besar seperti Alphabet, Tesla, dan Intel.

Data laporan keuangan tersebut dianggap krusial untuk memetakan kesehatan ekonomi Amerika Serikat.

Strategi Investasi Saat Pasar Saham Tertekan di Tengah Sentimen Global

“Semua orang menunggu musim pendapatan benar-benar dimulai,” kata Peter Tuz, presiden Chase Investment Counsel, mengutip laporan Reuters.

Dia menambahkan bahwa investor saat ini cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis kinerja sektor teknologi dan energi.

Ketegangan geopolitik juga membayangi pergerakan pelaku pasar setelah kelompok Houthi menyatakan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Situasi ini memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas pasokan energi dan perdagangan global.

Di sisi lain, terdapat upaya diplomatik melalui proposal gencatan senjata 10 hari yang ditujukan kepada Iran.

Joe Quinlan, kepala strategi pasar CIO untuk Merrill dan BofA Private Bank, menyebut pasar saat ini sangat mencermati potensi resolusi di Timur Tengah.

“Harapannya adalah jika Anda mendapatkan semacam resolusi, lebih sedikit pemboman, lebih banyak pembicaraan di Timur Tengah—maka harga minyak dan bensin tidak akan setinggi yang kita lihat awal tahun ini dan oleh karena itu, mengurangi sebagian tekanan pada harga konsumen,” ujar Quinlan.

Ia menyatakan bahwa investor berharap resolusi konflik dapat membuka kembali Selat Hormuz untuk menstabilkan harga minyak.

Proyeksi pertumbuhan pendapatan S&P 500 untuk kuartal kedua kini mencapai 26% secara tahunan.

Angka ini mengalami revisi naik dari ekspektasi sebelumnya yang berada di level 23,7% menurut data LSEG.

Laporan laba produsen chip seperti Intel dan Texas Instruments menjadi fokus utama pemantauan pasar pekan ini.

Investor mencari sinyal pemulihan setelah indeks semikonduktor Philadelphia sempat terperosok ke zona bearish.

Komentar