News

Tiga Putra Khamenei Hadiri Pemakaman, Keberadaan Mojtaba Masih Misterius

TEHERAN, Gonesia.com – Absennya Mojtaba Khamenei dalam rangkaian prosesi pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, memicu spekulasi luas di tengah ketegangan geopolitik yang memuncak.

Mojtaba, yang secara resmi telah ditunjuk sebagai penerus sang ayah sejak Maret lalu, hingga kini belum menampakkan batang hidungnya di ruang publik.

Ketidakhadiran sosok calon pemimpin tertinggi tersebut di tengah duka nasional memunculkan berbagai dugaan di kalangan analis internasional.

Banyak pihak meyakini bahwa Mojtaba sengaja disembunyikan demi alasan keamanan yang ketat.

Langkah ini disinyalir sebagai upaya preventif untuk melindunginya dari ancaman pembunuhan yang diduga kuat berasal dari pihak Israel.

Dino Patti Djalal Kritik Sikap Pemerintah Terkait Pemakaman Ayatollah Khamenei

Sejak pengangkatannya sebagai suksesor, Mojtaba tercatat belum pernah sekalipun muncul atau memberikan pernyataan resmi kepada publik.

Situasi kontras justru terlihat dari ketiga saudara laki-lakinya, yakni Mostafa, Meysam, dan Masoud Khamenei.

Ketiganya tertangkap kamera televisi pemerintah saat berdiri di belakang deretan peti jenazah dalam prosesi salat jenazah di kompleks Imam Khomeini Grand Mosalla, Teheran.

Upacara tersebut diselenggarakan sebagai penghormatan terakhir bagi mendiang Ayatollah Ali Khamenei beserta sejumlah anggota keluarganya.

Diketahui, putri, menantu laki-laki, menantu perempuan, dan cucu perempuan mendiang yang masih berusia 14 bulan turut menjadi korban jiwa.

KPK Usut Laporan Gratifikasi Menhut Raja Juli Terkait Bupati Kuansing

Mereka dilaporkan tewas dalam serangan udara pada 28 Februari lalu, yang menandai pecahnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Suasana di lokasi pemakaman dipenuhi oleh lautan massa yang meluapkan kemarahan serta kesedihan mendalam.

Jurnalis Al Jazeera, Tohid Asadi, melaporkan bahwa ribuan pelayat terus berdatangan ke kompleks keagamaan terbesar di Teheran tersebut.

“Ribuan dan ribuan orang terus berdatangan untuk memberikan penghormatan. Mereka membawa bendera Iran dan juga bendera merah yang melambangkan seruan untuk membalas dendam,” ungkapnya.

Tohid Asadi menambahkan bahwa massa secara konsisten meneriakkan slogan anti-Amerika dan anti-Israel.

Dino Patti Djalal Soroti Absennya Delegasi RI di Pemakaman Ayatollah Khamenei

“Orang-orang menyerukan pembalasan atas darah pemimpin tertinggi. Terdengar seruan ‘Mati untuk Amerika’ dan ‘Mati untuk Israel’ dari kerumunan,” tegasnya.

Pemerintah Iran sendiri telah menetapkan masa berkabung selama sepekan penuh sebagai bentuk penghormatan sekaligus simbol solidaritas nasional.

Jenazah mendiang dijadwalkan akan diarak menuju sejumlah kota suci Syiah, termasuk Qom dan Mashhad di Iran, serta Karbala dan Najaf di Irak.

Puncak dari rangkaian prosesi ini akan ditandai dengan mobilisasi massa besar-besaran di pusat Kota Teheran pada Senin mendatang.

Pemerintah telah menyiapkan dukungan logistik berupa transportasi, makanan, hingga akomodasi bagi jutaan warga yang ingin berpartisipasi.

Data dari otoritas Metro Teheran mencatat lonjakan mobilitas hingga tujuh juta perjalanan penumpang sejak Sabtu malam.

Tingginya angka tersebut menjadi indikator kuat betapa besarnya antusiasme masyarakat dalam mengikuti prosesi duka tersebut.

Kehadiran para petinggi negara, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian dan Komandan Pasukan Quds Esmail Qaani, menegaskan urgensi situasi politik saat ini.

Di sisi lain, tuntutan balas dendam dari rakyat terus mengalir deras sebagai respons atas kematian sang pemimpin tertinggi.

Seorang pelayat berusia 29 tahun, Gholamreza Sabooni, menyampaikan tuntutan kerasnya kepada kantor berita AP.

“Saya datang ke sini untuk berteriak dan menuntut balas dendam. Mereka membunuh imam kami, maka kami harus membunuh pemimpin mereka, Donald Trump,” ujarnya.

Profesor di University of Applied Science and Technology, Teheran, Mostafa Khoshcheshm, menilai bahwa pesan dari masyarakat sudah sangat jelas.

“Saya yakin pesannya sangat jelas. Rakyat Iran tidak akan lagi tertipu oleh pembicaraan atau semacam nota kesepahaman,” kata Mostafa Khoshcheshm kepada Al Jazeera.

Ia menambahkan bahwa masyarakat kini sepenuhnya sadar akan eskalasi permusuhan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

“Mereka sadar bahwa permusuhan Amerika Serikat dan Israel belum berakhir,” tutupnya.

Komentar