BANDUNG, Gonesia.com — Empat warga lanjut usia terpaksa dilarikan ke Puskesmas Cidadap, Kota Bandung, setelah mengalami gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan asap pekat dari kebakaran lahan di kawasan Punclut.
Peristiwa kebakaran yang melanda lahan bekas tempat pembuangan sampah sementara seluas lebih dari dua hektare ini mulai terjadi pada Senin (14/9/2026) sekitar pukul 18.45 WIB.
Hingga Selasa (15/9/2026) siang, petugas pemadam kebakaran masih berupaya keras menjinakkan sejumlah titik api yang kembali muncul akibat hembusan angin kencang di area lereng.
Camat Cidadap, Maulana, saat ditemui di lokasi kejadian menyatakan bahwa total terdapat 11 orang warga yang telah melaporkan keluhan kesehatan ke posko darurat.
“Sampai dengan saat ini sudah ada sekitar 11 orang warga masyarakat yang melaporkan kesehatannya ke posko dan empat di antaranya ISPA,” kata Maulana sebagaimana dikutip dari JPNN.com.
Kondisi geografis lahan yang berada di lereng curam menjadi hambatan utama bagi petugas dalam menjangkau titik api secara maksimal.
Selain medan yang sulit, petugas di lapangan juga harus menghadapi risiko tanah labil yang berpotensi memicu longsor.
Kekhawatiran akan adanya kandungan gas metana di bawah tumpukan sampah sisa pembakaran menambah tingkat kesulitan bagi tim pemadam kebakaran.
“Dari semalam masih bau gas. Diduga gas metana,” ujarnya.
Hingga saat ini, lebih dari 40 ribu liter air telah disemprotkan ke area lahan yang terbakar guna memadamkan api secara menyeluruh.
Kepulan asap tebal dari kebakaran tersebut dilaporkan telah merembet hingga ke permukiman penduduk dan fasilitas publik di sekitar lokasi.
Dampak asap bahkan mencapai area sekolah serta lingkungan RS Salamun yang terletak hanya sekitar 100 meter dari titik api.
“Asap itu dari kemarin kumpulan asap itu masuk ke wilayah warga. Termasuk ke sekolah, bahkan ke titik-titik rumah sakit Salamun,” tuturnya.
Menyikapi situasi tersebut, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cidadap telah mendirikan posko kesehatan dan posko pengungsian di kantor kelurahan setempat.
Pihak kecamatan juga telah berkoordinasi dengan kepala sekolah SMP 52 Bandung untuk mewajibkan penggunaan masker bagi seluruh siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
“Kami juga kerja sama dengan kepala sekolah SMP 52 karena di bawah ada sekolah, agar anak-anaknya dalam kegiatan KBM hari ini menggunakan masker,” ungkapnya.
Maulana menambahkan bahwa kawasan tersebut merupakan lokasi yang kerap mengalami kebakaran berulang setiap tahunnya.
Berdasarkan catatan historis, proses pemadaman di lahan yang sama bahkan pernah memakan waktu lebih dari tiga hari akibat sulitnya medan dan persistensi api.
Pihak kecamatan kini melakukan kolaborasi intensif dengan berbagai pihak untuk memastikan tidak ada titik api yang tersisa.
“Makanya hari ini dari pemadam all out, gimana caranya supaya tidak kecolongan lagi (ada titik api yang tidak dipadamkan). Ini kami sengaja kolaborasi ya biar cepat gitu,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam terkait penyebab utama awal munculnya api di lereng tersebut.
Otoritas setempat belum dapat memastikan apakah kebakaran dipicu oleh faktor kesengajaan atau kelalaian manusia seperti pembuangan puntung rokok sembarangan.
“Dari informasi dan saksi, api itu berawal dari bawah lereng. Entah sengaja dibakar atau yang buang rokok. Kami masih dalam penyebabnya,” ujarnya.


