IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Berita

Syahganda Ungkap Sempat Ditawari Jadi Dubes Turki oleh Prabowo

Serah terima jabatan kepala Bakom, Syahganda ungkap sempat ditawari jadi dubes Turki oleh Prabowo

Jakarta – Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) Syahganda Nainggolan mengungkap pernah masuk dalam radar penugasan sebagai Duta Besar RI untuk Turki. Tawaran itu, menurut dia, disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sejak Maret 2026.

Meski demikian, Prabowo belakangan memilih menempatkannya di dalam negeri. Syahganda pun akhirnya dilantik sebagai Kepala Bakom RI pada Jumat (2/10), setelah sebelumnya sempat diarahkan untuk bertugas di luar negeri.

“Karena ketika saya dilantik, itu satu hari sebelum saya dikasih tahu. ‘Pak Syahganda, Bapak Presiden tidak berkenan Bapak menjadi Duta Besar’. Karena saya awalnya di-plot untuk Duta Besar di Turki, udah jelas tempatnya karena beliau sendiri bulan Maret sudah menyampaikan,” ujar Syahganda saat serah terima jabatan di Kantor Kepala Bakom RI, Jakarta, Selasa (6/10).

Syahganda juga mengaku tak langsung menerima jabatan barunya. Menurut dia, pada dua hari sebelum pelantikan ia masih menolak, namun sehari sebelum prosesi berlangsung ia berubah sikap dan bersedia menerima penugasan itu.

“Saya tolak H-2, H-1 muncul lagi itu, ‘Oke, siap,’ saya bilang, siap,” katanya.

Tri Budi Utomo Gantikan Saleh Mustafa Jadi Wakil KSAD

Ia menambahkan, Presiden Prabowo memberi arahan khusus agar Bakom RI mampu mengorkestrasi penyampaian kebijakan pemerintah. Arahan itu, kata Syahganda, disampaikan dalam pertemuan sekitar dua jam di Hambalang bersama wakil kepala Bakom RI pada Minggu, 4 Oktober.

“Saya dipanggil oleh beliau ke Hambalang bersama Pak Waka, hari Minggu tanggal 4. Saya bertemu dengan beliau 2 jam, cukup lama menurut saya, kita diberitahu tentang bagaimana Bakom ini pikiran-pikiran beliau, program-program beliau itu sampai ke rakyat yang paling bawah,” ujarnya.

Syahganda menyebut, Prabowo juga meminta Bakom RI lebih aktif menjaring aspirasi publik dari level terbawah. Ia menilai, presiden ingin persoalan yang dihadapi masyarakat langsung tersampaikan tanpa perantara.

“Yang kedua, Bapak Presiden mengarahkan pikiran orang-orang yang paling bawah dan apa yang terjadi paling bawah harus sampai ke telinga beliau. Ini yang diminta, jadi bagaimana kita ini mendengarkan suara rakyat,” pungkasnya.

Komentar
KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid dalam Kasus ATR/BPN