Ekonomi

Rupiah Melemah dan IHSG Tertekan Hari Ini

JAKARTA – Nilai tukar rupiah mengalami tekanan hebat dalam perdagangan Senin (8/6), menembus level Rp 18.200 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda ini terjadi beriringan dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot lebih dari 4 persen, mencerminkan sentimen negatif yang menyelimuti pasar keuangan domestik akibat ketidakpastian kebijakan moneter global.

Kurs rupiah tercatat melemah 164 poin atau sebesar 0,91 persen dibandingkan level pembukaan di Rp 18.152 per dolar AS. Tren depresiasi ini dipicu oleh data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menunjukkan performa lebih kuat dari ekspektasi pasar. Kondisi ekonomi AS yang tangguh tersebut memperbesar peluang bank sentral AS, The Fed, untuk mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi dalam durasi yang lebih lama.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut hingga mencapai level Rp 19.000 per dolar AS pada akhir bulan ini. Senada dengan hal tersebut, analis Lukman Leong menilai bahwa penguatan dolar AS yang didorong oleh rilis data pekerjaan Amerika, ditambah dengan eskalasi tensi geopolitik global, menjadi faktor utama yang menekan posisi mata uang domestik di pasar valuta asing.

Di sektor pasar modal, IHSG menunjukkan respons serupa dengan penurunan tajam sejak awal perdagangan. Indeks dibuka di level 5.421,581 atau terkoreksi 3,1 persen, sebelum akhirnya merosot lebih dalam hingga 4,15 persen ke level 5.362. Aktivitas jual yang masif terlihat dari volume transaksi awal yang mencapai 1,23 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 896,9 miliar.

Chief Economist Bank BTN, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG didorong oleh fenomena capital outflow atau perpindahan dana investor global dari pasar negara berkembang menuju aset-aset di negara maju. Hal ini terjadi karena investor merespons positif penguatan ekonomi AS dan mengantisipasi kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Tekanan pasar kian berat seiring dengan aksi jual bersih yang dilakukan secara signifikan oleh para investor asing di Bursa Efek Indonesia.

OJK Siapkan Aturan Tokenisasi Aset Nyata Terbit Kuartal III-2026

Senada dengan analisis tersebut, pengamat pasar modal Desmond Wira menambahkan bahwa koreksi pasar saham global, khususnya pada sektor teknologi, turut memberikan sentimen negatif bagi pelaku pasar domestik. Ia menyatakan bahwa koreksi yang terjadi saat ini bersifat menyeluruh hampir di seluruh sektor.

Meskipun pasar tengah berada dalam tekanan, Myrdal Gunarto melihat adanya peluang bagi investor untuk mencermati sektor-sektor tertentu yang memiliki fundamental kuat. Sektor energi, pertanian, pangan, dan manufaktur dinilai masih memiliki prospek menarik, terutama bagi emiten yang diuntungkan oleh pelemahan nilai tukar rupiah serta tingginya permintaan ekspor. Namun, secara umum, proyeksi jangka pendek menunjukkan bahwa sentimen negatif diperkirakan masih akan membayangi pergerakan pasar domestik dalam waktu dekat.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

04

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

05

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

06

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

07

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

08

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

Berita Terbaru