Jakarta – Kinerja PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) sepanjang semester I 2026 mencatat lonjakan EBITDA yang kuat, namun laba bersih perseroan masih tertahan oleh tekanan margin di beberapa lini bisnis serta rugi selisih kurs.
Analis PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Ryan Winipta mengatakan, MBMA membukukan EBITDA US$ 313 juta pada paruh pertama 2026 atau tumbuh sekitar 300% dibanding periode yang sama tahun lalu. Realisasi itu juga berada di jalur proyeksi, yakni sekitar 49% dari estimasi IPOT dan 50% dari konsensus setahun penuh.
Pada kuartal II 2026, EBITDA MBMA mencapai US$ 169 juta. Kenaikan ini terutama ditopang oleh kontribusi segmen SCM yang lebih besar dan membaiknya margin bijih nikel usai revisi formula Harga Patokan Mineral (HPM) pada April 2026.
“Peningkatan EBITDA terutama berasal dari kontribusi SCM yang lebih tinggi serta kenaikan margin bijih nikel setelah revisi HPM pada April 2026, meskipun sebagian terdampak oleh penurunan margin kas NPI dan HGNM,” ujar Ryan dalam riset yang dikutip Kontan, Senin (28/9/2026).
Di sisi bawah laba, MBMA hanya mencetak laba bersih US$ 24 juta pada kuartal II 2026. Dengan demikian, akumulasi laba bersih semester I 2026 mencapai US$ 54 juta, masih di bawah ekspektasi Indo Premier maupun konsensus yang baru memenuhi masing-masing 29% dan 33% dari target tahunan.
Tekanan itu terutama datang dari rugi selisih kurs sebesar US$ 32 juta pada kuartal II 2026. Kontributor lain yang ikut melemah adalah kinerja perusahaan patungan. MIA, induk ESG HPAL, justru membukukan rugi bersih US$ 37 juta pada kuartal II 2026, berbalik dari laba US$ 4,7 juta pada kuartal I 2026.
IPOT menilai pelemahan tersebut bisa berkaitan dengan penghentian sementara sebagai langkah kehati-hatian setelah longsor terjadi di fasilitas penyimpanan tailing di sekitar area operasi.
Dari sisi operasional, kenaikan harga nikel di London Metal Exchange (LME) ikut mengerek harga jual rata-rata bijih nikel MBMA. Harga jual rata-rata limonit tercatat US$ 26,1 per wmt, naik 29% secara kuartalan. Sementara itu, saprolit dijual dengan harga rata-rata US$ 58,9 per wmt atau melonjak 106% dibanding kuartal sebelumnya.
Revisi HPM pada April 2026 kemudian mendorong margin kas saprolit dan limonit masing-masing naik 566% dan 3% secara kuartalan. Namun, kenaikan itu tidak sepenuhnya mengalir ke bawah karena tertahan oleh lonjakan royalti seiring naiknya harga jual rata-rata serta bertambahnya biaya bahan bakar.
Di lini pengolahan, dampaknya justru berlawanan. Perubahan formula HPM menekan margin NPI, dengan margin kas turun 50% secara kuartalan menjadi US$ 1.900 per ton. Margin HGNM juga anjlok dan berbalik negatif menjadi minus US$ 542 per ton dari sebelumnya US$ 1.321 per ton pada kuartal I 2026.
Hingga akhir semester I 2026, penjualan bijih saprolit MBMA mencapai 4,2 juta wmt dan limonit 8,1 juta wmt. Adapun penjualan NPI tercatat 39.396 ton, sedangkan HGNM sebanyak 18.513 ton.
Untuk lini usaha lain, operasi AIM telah mengantongi IUI dan menjual 383.000 ton asam sulfat pada kuartal II 2026. Indo Premier juga memperkirakan produksi ESG dan SLNC HPAL akan memberi kontribusi yang lebih signifikan pada paruh kedua 2026.
Atas dasar itu, IPOT tetap mempertahankan rekomendasi Buy untuk saham MBMA dengan target harga Rp 745 per saham. Target tersebut belum berubah dan masih menawarkan potensi kenaikan sekitar 49% dari harga penutupan MBMA di Rp 500 pada 25 September 2026.
Pada perdagangan Senin (28/9/2026), saham MBMA ditutup menguat 1% ke level Rp 505 per saham pada akhir sesi pertama.
“Dengan hasil yang sejalan dengan perkiraan kami, kami mempertahankan rekomendasi Buy untuk MBMA dengan target harga Rp 745 per saham,” tulis Ryan.
Ke depan, IPOT menilai tambahan volume bijih limonit berpeluang muncul mulai kuartal IV 2026 setelah kuota RKAB disetujui dan operasi SLNC HPAL berjalan. Revisi terbaru HPM bijih limonit juga diperkirakan dapat menekan pembayaran royalti dan pajak penghasilan badan MBMA, sehingga menjadi katalis positif bagi laba bersih pada semester II 2026.
Meski demikian, IPOT mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu dicermati, mulai dari eksekusi proyek HPAL, tekanan penurunan harga nikel, hingga penyempitan margin kas akibat tingginya biaya tunai.


