IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Realisasi Capex ANJT Capai 73,5%, Simak Prospek dan Rekomendasi Sahamnya

Papan layar elektronik menampilkan grafik pergerakan harga saham PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) di lantai bursa.
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) mencatatkan pertumbuhan laba bersih signifikan sebesar 179,49% pada kuartal I 2026.

Jakarta, Gonesia.com — PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) saat ini menghadapi tantangan ganda dalam menyeimbangkan lonjakan profitabilitas perusahaan dengan kewajiban pemenuhan aturan free float saham yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia.

Perseroan telah mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan sebesar 179,49% menjadi Rp 232,53 miliar pada kuartal I 2026, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 83,2 miliar.

Kinerja keuangan yang impresif ini didorong oleh efisiensi operasional dan pengakuan laba atas pelepasan investasi, meskipun pendapatan perusahaan hanya tumbuh tipis menjadi Rp 1,15 triliun dari angka Rp 1 triliun pada kuartal pertama tahun lalu.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, kepada Kontan, Kamis (16/7/2026), menyatakan bahwa lonjakan laba bersih ini menunjukkan adanya perbaikan profitabilitas yang solid melalui efisiensi beban operasional dan penurunan beban keuangan.

Ia menambahkan bahwa perusahaan juga telah merealisasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 242,78 miliar hingga akhir Maret 2026, yang mencakup 73,5% dari total anggaran tahunan sebesar Rp 330,44 miliar.

BEI Perbarui Aturan Saham HSC, IHSG Diproyeksi Tembus 7.000

Sebagian besar dana investasi tersebut difokuskan pada pengembangan tanaman immature senilai Rp 149,15 miliar serta penguatan infrastruktur operasional untuk mendukung produktivitas jangka panjang.

Namun, di balik performa operasional yang membaik, ANJT masih terbentur isu kepemilikan saham publik yang berada di bawah batas minimum akibat aksi Mandatory Tender Offer (MTO) oleh First Resources Limited.

Saat ini, sebanyak 95,91% saham ANJT dikuasai oleh First Resources Limited, sementara porsi kepemilikan masyarakat hanya tersisa 4,08%.

Manajemen ANJT menyatakan bahwa mereka saat ini tengah melakukan kajian mendalam terkait berbagai alternatif untuk memenuhi ketentuan free float tersebut sambil terus berkoordinasi dengan pemegang saham pengendali dan otoritas terkait.

Kondisi kepemilikan saham yang terkonsentrasi ini dikhawatirkan dapat membatasi likuiditas pasar dan menyebabkan volatilitas harga yang lebih tinggi dibandingkan emiten sawit lainnya.

Tower Bersama TBIG Perluas Bisnis ke Layanan Network Access Point

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa minimnya porsi saham publik berpotensi membatasi minat investor institusi karena keterbatasan likuiditas serta potensi ketidaksesuaian dengan kriteria indeks tertentu.

Ujarnya, dari sisi valuasi, kondisi ini dapat menyebabkan harga saham tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental perusahaan atau proses price discovery menjadi kurang optimal.

Nafan turut menyoroti potensi tantangan dari kebijakan ekspor CPO satu pintu yang bisa membatasi fleksibilitas perusahaan dan menekan margin keuntungan di pasar domestik.

Meskipun demikian, ia menegaskan bahwa selama implementasi kebijakan masih proporsional dan harga CPO global tetap terjaga, kinerja ANJT masih berada dalam batas yang dapat dikelola.

Di sisi lain, optimisme terhadap prospek semester II 2026 tetap terjaga seiring dengan pemulihan produksi tandan buah segar di kebun Belitung dan Sumatra Utara.

Indika Energy Pertimbangkan Jual Aset Tambang Senilai Rp 18,1 Triliun

Azis menyematkan rekomendasi trading buy untuk saham ANJT dengan target harga di kisaran Rp 1.590 hingga Rp 1.600 per saham, dengan catatan investor harus tetap mencermati fluktuasi harga komoditas global.

Komentar