IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Pertamina NRE Kembangkan Proyek PLTS 2,4 GW di Filipina

Panel surya terpasang di lahan terbuka sebagai bagian dari proyek energi terbarukan Pertamina NRE di Filipina.
Pertamina NRE menargetkan kapasitas PLTS sebesar 2,4 GW di Filipina pada akhir tahun 2026.

Jakarta, Gonesia.com – PT Pertamina New and Renewable Energy (NRE) mencatatkan lonjakan performa signifikan melalui ekspansi proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Filipina yang diproyeksikan mencapai total kapasitas 2,4 gigawatt (GW) pada akhir 2026.

CEO Pertamina NRE John Anis mengungkapkan bahwa saat ini kapasitas PLTS yang dikembangkan bersama mitra strategis, Citicore Renewable Energy Corporation (CREC), telah menyentuh angka 1,2 GW.

“Dan tahun ini akan tambah sekitar 1,2 GW lagi, mungkin akhir tahun ini sekitar 2,4 GW,” kata John dalam Indonesia Solar Summit 2026, Rabu (15/7).

Capaian ini merefleksikan keberhasilan langkah strategis perusahaan yang sebelumnya telah mengakuisisi 20 persen saham CREC senilai US$120 juta pada Juni 2025.

Proyek ini mendapatkan momentum besar melalui skema Green Energy Auction Program (GEAP) yang diselenggarakan oleh Departemen Energi Filipina.

Harga Gas Alam Diprediksi Melonjak Signifikan hingga Akhir 2026

Skema lelang tersebut terbukti efektif dalam memfasilitasi peran sektor swasta untuk mengakselerasi pembangunan infrastruktur energi bersih di negara tersebut.

Pasca-akuisisi, CREC sebenarnya mematok target penambahan kapasitas sebesar 1 GW setiap tahun selama periode lima tahun ke depan.

Namun, realisasi progres di lapangan saat ini terpantau melampaui target awal yang telah ditetapkan perusahaan.

Ia menjelaskan bahwa iklim investasi energi terbarukan di Filipina didukung oleh pasar yang sudah terbentuk dengan sangat baik.

Tarif listrik tenaga surya di negara tersebut dinilai sudah cukup kompetitif untuk mendorong pembangunan proyek dalam skala masif.

17 Ribu Titik Panas Ancam Habitat Orangutan Kalimantan Sepanjang Agustus

Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan situasi di Indonesia yang memaksa Pertamina NRE untuk lebih bersikap selektif.

Perusahaan saat ini sebenarnya telah memiliki fasilitas perakitan panel surya yang berlokasi di Cikarang, Jawa Barat.

“Pabriknya sudah ada di Cikarang, cuma memang kami jujur masih menunggu market-nya,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa para pelaku industri saat ini masih menantikan kepastian regulasi serta rencana konkret dari pemerintah terkait target ambisius pengembangan 100 GW PLTS.

Kepastian hukum dan dukungan insentif fiskal dipandang sebagai faktor krusial yang dibutuhkan untuk menstimulasi pertumbuhan pasar domestik.

Defisit Perdagangan AS Melonjak ke US$ 88,6 Miliar dengan Meksiko dan Vietnam

Saat ini, portofolio PLTS milik Pertamina NRE di Indonesia masih terbatas pada kapasitas 50 hingga 60 megawatt (MW).

Mayoritas dari kapasitas tersebut masih berupa PLTS captive atau pembangkit untuk kebutuhan internal operasional Pertamina.

Salah satu proyek captive yang telah beroperasi adalah PLTS dengan kapasitas 26 MW di wilayah kerja Pertamina Hulu Rokan.

Langkah ekspansi agresif di luar negeri ini menjadi strategi perusahaan guna mempertahankan pertumbuhan bisnis di tengah penantian kesiapan ekosistem energi terbarukan di dalam negeri.

Komentar

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

04

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

05

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

06

DPRD Sumbar Desak Perbaikan Jalan Payakumbuh-Lintau Lanjut 2026

07

HUT ke-81 RI, Paspampres kerahkan 1.147 personel dan alusista amankan VVIP

08

Kementerian Lingkungan Hidup Menanti Hasil Lab Cisadane, Pastikan Kualitas Air

Berita Terbaru