Pontianak, Gonesia.com – Lebih dari separuh habitat orangutan di Kalimantan kini berada dalam kondisi terancam menyusul lonjakan titik panas atau hotspot yang mencapai 17.375 titik sepanjang Agustus 2026.
Data dari organisasi konservasi lingkungan Geopix mencatat peningkatan signifikan dibandingkan periode dua bulan sebelumnya yang hanya mencapai 14.150 titik.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bahkan telah mengonfirmasi satu kasus kematian orangutan jantan dewasa yang diduga kuat akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menyatakan bahwa kegagalan dalam memitigasi kebakaran hutan akan berdampak buruk bagi keberlangsungan satwa liar dan kesehatan lingkungan masyarakat.
Ia menegaskan, “Krisis ini adalah pukulan terberat bagi kita, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga satwa liar di dalamnya.”
Berdasarkan pemantauan satelit antara 1 Juni hingga 28 Agustus 2026, sekitar 25 juta hektare dari total 42,8 juta hektare habitat orangutan di Kalimantan teridentifikasi memiliki risiko tinggi kebakaran.
Kawasan seperti Muller-Schwaner, Western Schwaner, dan Seruyan-Sampit kini dikategorikan berada dalam kondisi kritis yang membutuhkan tindakan tanggap darurat segera.
Ia menambahkan bahwa kawasan tersebut memerlukan pembentukan tim pemadam khusus, patroli pemadaman cepat, serta pembangunan sekat bakar guna melindungi sisa populasi orangutan yang kian sedikit.
Sementara itu, wilayah Rungan River, Katingan, serta Gunung Palung masuk dalam kategori kerentanan sedang yang memerlukan pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan.
Pihaknya juga merekomendasikan restorasi habitat dan edukasi intensif bagi masyarakat di sekitar kawasan Belayan-Senyiur, Beratus, dan Sabangau agar tidak lagi menggunakan metode pembakaran dalam pembukaan lahan.
Kebakaran hutan yang masif memicu dampak domino berupa hilangnya sumber pakan utama serta hancurnya tempat pembuatan sarang bagi primata yang terancam punah tersebut.
Laporan tersebut menjelaskan, “Kehilangan pohon pakan menjadi salah satu dampak paling langsung, karena kebakaran dapat menghancurkan pohon yang menghasilkan buah, daun, bunga, dan sumber makanan lainnya.”
Asap kebakaran juga mengganggu siklus fenologi tumbuhan dan menurunkan produksi buah, yang pada akhirnya memaksa orangutan mengubah rute serta pola jelajah mereka.
Penyempitan habitat akibat karhutla berisiko menciptakan fragmentasi wilayah yang memperkecil peluang perkembangbiakan dan pertukaran genetik antar kelompok orangutan.
Selain itu, perpindahan satwa ke wilayah aktivitas manusia demi mencari makan meningkatkan potensi konflik antara manusia dan satwa liar secara signifikan.
Penurunan kesehatan orangutan pun terbukti secara fisiologis melalui paparan polutan asap yang memicu stres dan respons inflamasi tubuh.
Kondisi tersebut memaksa satwa untuk menghemat energi secara drastis dengan mengurangi jarak tempuh perjalanan harian mereka.
Ia menyebutkan, “Temuan tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla terhadap orangutan tidak hanya berkaitan dengan kerusakan habitat secara fisik, tetapi juga memengaruhi kondisi fisiologis dan kesehatan individu. Terutama melalui paparan asap dalam jangka waktu tertentu.”
Kematian orangutan di Kalimantan Barat menjadi bukti nyata bahwa ancaman karhutla telah melampaui sekadar kerusakan fisik hutan, melainkan telah menjadi ancaman sistemik bagi kesehatan satwa liar.


