Berita

PVMBG Perluas Radius Aman Gunung Slamet Akibat Peningkatan Aktivitas Vulkanik Signifikan

Jawa Tengah – Gunung Slamet, salah satu gunung berapi aktif di Jawa Tengah, saat ini berada dalam status Waspada (Level II) menyusul peningkatan signifikan pada aktivitas vulkaniknya. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah mencatat lonjakan suhu kawah dan frekuensi gempa, memicu imbauan kewaspadaan bagi masyarakat sekitar. Status Waspada ini telah berlaku sejak 19 Oktober 2023, namun aktivitas terbaru menunjukkan eskalasi yang memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.

Hal itu seperti diungkap Kepala Pusat PVMBG Priatin Hadi Wijaya. Dia mengatakan, adanya peningkatan aktivitas Gunung Slamet yang perlu diwaspadai bersama oleh pemerintah daerah dan masyarakat di wilayah sekitarnya. "Gunung Slamet ini meliputi lima kabupaten (Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes), sehingga hasil pemantauan kami perlu dikenalkan kepada para pemangku kepentingan agar ada kesiapsiagaan bersama," ujar Priatin di sela kegiatan “Sosialisasi Mitigasi Bencana Geologi di Wilayah Gunung Api Slamet” yang digelar di Purwokerto, Kamis 23 April 2026.

Priatin mengatakan, sosialisasi tersebut menjadi langkah penting untuk menyampaikan perkembangan terkini aktivitas gunung api kepada pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta tokoh masyarakat agar respons yang dilakukan lebih terarah. Menurut dia, terdapat dua indikator utama yang menunjukkan peningkatan aktivitas Gunung Slamet yakni kenaikan suhu kawah dan aktivitas kegempaan vulkanik. "Berdasarkan hasil citra termal tim PVMBG, kata dia, suhu kawah Gunung Slamet mengalami peningkatan signifikan. Sebelum Maret 2026 suhu berada di kisaran 280 derajat Celcius, kemudian meningkat menjadi 418 derajat Celcius, dan terbaru mencapai sekitar 460 derajat Celcius," kata Priatin.

Data Kegempaan

Selain itu, menurut Priatin, data kegempaan menunjukkan adanya peningkatan gempa berfrekuensi rendah (low frequency) yang mengindikasikan pergerakan magma dari bagian dalam menuju ke kedalaman yang lebih dangkal. "Kondisi ini menunjukkan adanya dinamika di dalam tubuh gunung api, sehingga perlu kewaspadaan bersama," ucap dia. "Dalam melakukan pemantauan, PVMBG mengombinasikan metode visual dan instrumental, seperti kamera pemantau (CCTV), seismograf, tiltmeter, dan Electronic Distance Measurement (EDM) untuk memantau deformasi tubuh gunung," sambung Priatin.

Ditjen Imigrasi Deportasi Buronan Kasus Pembunuhan Asal Amerika Serikat ke Negaranya

Menurut dia, jika peningkatan aktivitas terus berlanjut dan direkomendasikan oleh tim ahli, PVMBG dapat melakukan evaluasi terhadap status Gunung Slamet yang saat ini berada pada Level II atau Waspada. "Jika memungkinkan terjadi kenaikan aktivitas dan direkomendasikan oleh tim ahli kami, maka evaluasi hingga peningkatan status harus segera dilakukan," kata Priatin. Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan sosialisasi tersebut menjadi dasar penting bagi daerah dalam memperkuat mitigasi bencana. Ia juga menekankan pentingnya peran desa tangguh bencana sebagai garda terdepan dalam menghadapi potensi erupsi.

Aktivitas Terkini dan Peringatan Dini Gunung Slamet

Aktivitas vulkanik Gunung Slamet menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa waktu terakhir, mendorong PVMBG untuk mengeluarkan peringatan dini dan memperketat zona aman. Suhu kawah puncak tercatat melonjak drastis dari 280 derajat Celcius sebelum Maret 2026 menjadi 460 derajat Celcius, bahkan sempat mencapai 478 derajat Celcius pada 18 April 2026, menandakan adanya akumulasi energi di bawah permukaan. Peningkatan ini menjadi perhatian utama mengingat potensi dampaknya bagi wilayah sekitar.

Selain kenaikan suhu, data kegempaan juga mengindikasikan peningkatan aktivitas internal gunung. Gempa hembusan dan low frequency tercatat melonjak drastis, menunjukkan pergerakan magma menuju kedalaman yang lebih dangkal. Tremor menerus atau microtremor juga menguat, dari amplitudo dominan 0,5 mm menjadi 1 mm, bahkan sempat menyentuh 1,5 mm pada 21 April 2026. Secara visual, asap kawah masih berwarna putih, namun ketinggiannya meningkat dan tampak lebih tebal. Menyikapi perkembangan ini, PVMBG telah memperluas radius aman di sekitar kawah puncak Gunung Slamet dari dua kilometer menjadi tiga kilometer sejak 4 April 2026. Masyarakat dan pengunjung diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius tersebut demi keselamatan. Pemerintah daerah juga diminta untuk memperbarui rencana kontingensi yang telah disusun sejak 2021, serta meningkatkan sosialisasi mitigasi bencana geologi kepada masyarakat.

Profil Geografis dan Sejarah Letusan Gunung Slamet

BSSN Perkuat Sistem Keamanan Siber Nasional Melalui Kolaborasi Strategis Berbagai Pihak

Gunung Slamet adalah gunung berapi kerucut (stratovolcano) tipe A yang berdiri megah di Jawa Tengah, menjadikannya gunung tertinggi di provinsi tersebut dengan ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara administratif, gunung ini membentang di lima kabupaten: Banyumas, Purbalingga, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Puncak Surono, yang merupakan puncak tertinggi, berada di wilayah Kabupaten Banyumas. Sebagai gunung tunggal terbesar di Indonesia, Gunung Slamet memiliki luas vegetasi sekitar 312 km² dan luas total area mencapai 560 km². Pembentukannya terjadi akibat subduksi Lempeng Indo-Australia pada Lempeng Eurasia, sebuah proses geologis yang umum terjadi pada gunung api di Pulau Jawa. Karakteristik ini memberikan keunikan tersendiri bagi ekosistem dan lanskap sekitarnya.

Sejarah letusan Gunung Slamet telah tercatat sejak abad ke-19, dengan letusan bersejarah seawal abad ke-18. Gunung ini pernah meletus pada tahun 1772, 1825, 1835, dan serangkaian letusan lainnya hingga yang terakhir mengeluarkan lava pijar pada Mei-Juni 2009. Meskipun aktif, tipe letusannya cenderung Strombolian, menghasilkan lontaran material pijar di sekitar kawah tanpa awan panas seperti Gunung Merapi, karena magmanya yang lebih encer.

Jalur Pendakian Menantang dan Tips Aman Gunung Slamet

Bagi para petualang, Gunung Slamet menawarkan jalur pendakian yang menantang dengan pemandangan alam yang memukau. Jalur tradisional dan paling populer adalah dari Bambangan di Purbalingga, yang dikenal dengan awal yang landai namun berubah menjadi tanjakan terjal dan panjang setelah pos 4 atau 5. Jalur ini melewati hutan lebat yang kaya akan keanekaragaman hayati. Selain Bambangan, terdapat jalur pendakian lain seperti dari arah selatan (Banyumas), Guci (Tegal) dengan hutan pinus asri, dan Dhipajaya di Pemalang yang baru diresmikan pada 2013.

Tingkat kesulitan pendakian Gunung Slamet tergolong tinggi, terutama karena kelangkaan sumber air di sepanjang rute serta medan yang terjal dan berliku. Oleh karena itu, pendaki pemula tidak disarankan untuk melakukan solo hiking. Untuk memastikan keselamatan, pendaki dianjurkan untuk membawa air yang cukup (4-5 liter), menggunakan perlengkapan lengkap seperti jaket tebal, windproof, dan sepatu gunung. Waktu terbaik untuk mendaki adalah antara April hingga September untuk menghindari musim hujan ekstrem. Selalu mendaftar di basecamp, membawa identitas diri, dan mematuhi larangan serta menghormati alam dan budaya lokal adalah hal yang wajib dilakukan. Penting juga untuk selalu memantau informasi terkini mengenai aktivitas vulkanik Gunung Slamet sebelum memulai pendakian.

Kemenhut dan BMKG Perkuat Mitigasi Sains Antisipasi Ancaman El Nino 2026

Komentar

Berita Populer

01

Pemprov DKI Jakarta Tangkap 6,98 Ton Ikan Sapu-Sapu di Lima Wilayah

02

KPK Panggil Bos Rokok HS Guna Dalami Dugaan Korupsi Cukai Bea Cukai

03

BGN Umumkan Revisi Juknis MBG 2026, Nomenklatur Personel SPPG Berubah

04

Menaker Dorong PVN 2026 Bandung Siapkan Lulusan Kerja

05

Pemkab Lima Puluh Kota Tengahi Konflik Masyarakat

06

Zigo Rolanda Dorong Infrastruktur Sumbar, Masuk Top 10 Golkar

07

Boyamin Saiman Kirim Banner Sindir KPK Izinkan Yaqut Cholil Qoumas Tahanan Rumah

08

Wamen KKP Ajak Pelaku Usaha Gunakan Stelina Tingkatkan Daya Saing Ekspor

Berita Terbaru










× www.domainesia.com
× www.domainesia.com