Berita

Kejati DKI Didorong Usut Mafia Parkir dan Korupsi Jakarta

kejati-dan-inspektorat-dituntut-usut-dugaan-mafia-parkir-di-jakarta
Kejati dan Inspektorat Dituntut Usut Dugaan Mafia Parkir di Jakarta

Jakarta – Desakan agar aparat penegak hukum turun tangan mengusut dugaan korupsi di sektor perparkiran DKI Jakarta menguat setelah Panitia Khusus Perparkiran DPRD DKI membeberkan sejumlah temuan yang dinilai janggal. Di antaranya, keberadaan operator parkir yang diduga ilegal hingga penguasaan aset milik Pemprov DKI Jakarta tanpa setoran retribusi ke kas daerah.

Ketua Umum DPP KAMAKSI, Joko Priyoski, menilai temuan itu tidak cukup hanya ditindaklanjuti lewat jalur administratif. Ia mendesak Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta memeriksa lebih jauh apakah ada unsur tindak pidana korupsi, penyalahgunaan kewenangan, dan pembiaran yang berujung pada kebocoran pendapatan asli daerah.

“Temuan Pansus DPRD DKI Jakarta tidak boleh berhenti pada rekomendasi administratif semata,” ujar Joko dalam keterangannya, Jumat 5 Juni 2026.

Salah satu sorotan utama berasal dari dugaan pelanggaran pengelolaan parkir di kawasan Blok M Square, Jakarta Selatan. Berdasarkan temuan Pansus Perparkiran DPRD DKI, operator Best Parking diduga sudah memungut tarif parkir tanpa izin resmi sejak 2023.

Praktik tersebut diperkirakan menimbulkan potensi kerugian daerah hingga Rp50 miliar. Angka itu disebut berkaitan dengan dugaan manipulasi pelaporan dan kewajiban pajak parkir.

Pemerintah Perkuat Koordinasi, Jaga Rupiah dan Stabilitas Ekonomi

Pansus juga menemukan sejumlah aset milik Pemprov DKI Jakarta yang diduga sudah bertahun-tahun dikuasai pihak tertentu tanpa memberikan kontribusi retribusi kepada pemerintah daerah. Temuan lain tak kalah serius: sekitar 105 operator parkir disebut beroperasi di wilayah abu-abu tanpa legalitas yang jelas.

Joko menilai rangkaian temuan itu menunjukkan perlunya investigasi menyeluruh terhadap tata kelola parkir di ibu kota. Ia mempertanyakan bagaimana praktik dengan perputaran uang besar bisa berlangsung lama tanpa terdeteksi secara memadai.

“Sulit diterima akal sehat jika praktik pengelolaan parkir yang berlangsung bertahun-tahun dengan perputaran uang sangat besar tidak terdeteksi oleh sistem pengawasan yang ada,” tegasnya.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

03

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

04

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

05

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

06

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

07

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru