Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai efektif mengendalikan harga pangan dan memperkuat ekonomi rakyat, menurut ekonom Harryadin Mahardika. Ia menepis kekhawatiran inflasi pangan akibat program ini, justru menekankan peran Sentra Penyediaan Pangan Gizi (SPPG) dalam menstabilkan harga.
Harryadin menjelaskan, "Sebelum program MBG berjalan, petani dan peternak tidak punya mekanisme untuk bisa langsung berdagang ke masyarakat. Mereka harus selalu menjual produk mereka ke tengkulak dan distributor, sehingga harga mudah dimainkan spekulan." Kondisi ini berubah dengan adanya SPPG yang menampung langsung hasil pertanian dan peternakan. "Justru menurut saya para spekulan akan sulit mempermainkan harga lagi karena produk peternak dan petani bisa langsung dibeli SPPG. Jadi opsi bagi petani dan peternak lebih banyak," tegasnya.
Selama libur sekolah, SPPG tetap beroperasi mendistribusikan paket makanan bergizi, menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga nutrisi anak. Guru Besar Ilmu Politik dan Humaniora Universitas Muhammadiyah Jakarta, Sri Yunanto, juga menolak anggapan bahwa program MBG saat libur sekolah hanya menghabiskan anggaran. "Pemenuhan gizi tidak boleh terputus hanya karena kalender akademik, demi memastikan investasi SDM menuju Indonesia Emas 2045 tetap terjaga," ujarnya.
Selain ketahanan pangan, SPPG juga membuka lapangan pekerjaan bagi ribuan relawan, memberikan dampak ekonomi signifikan. "SPPG itu keberkahan dan manfaatnya untuk banyak orang. Termasuk untuk pegawai yang ada di sana. Ini akan memutar perekonomian," kata Harryadin.
Hingga 24 Desember 2025, tercatat 17.555 SPPG melayani lebih dari 50 juta penerima manfaat di 38 provinsi, dengan 741.985 tenaga kerja terlibat langsung. Maria Sudilaksana Mega (42), relawan SPPG Khusus Tangerang Selatan, mengaku sangat terbantu dengan program ini. "Sedih lah saya. Saya enggak tahu mau kerja di mana lagi untuk menghidupi anak-anak saya. Mana saya baru saja berpisah dengan suami saya tujuh bulan lalu dan baru tahu kalau ternyata saya hamil," ujarnya.
Mega kini bekerja sebagai juru racik makanan bersama 46 relawan lainnya, memproduksi sekitar 3.300 porsi makanan setiap hari. Baginya, program MBG bukan hanya kebijakan pemerintah, tetapi penopang kehidupan di masa sulit. "Program ini membantu saya menyekolahkan anak-anak sekaligus menyambung hidup," katanya.


