NEW YORK, Gonesia.com — Pasar saham Wall Street Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (4/9) akibat sentimen negatif yang dipicu oleh lonjakan data ketenagakerjaan yang melampaui ekspektasi pasar.
Investor merespons data tersebut dengan kekhawatiran tinggi akan potensi kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.
Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan signifikan sebesar 271,86 poin atau 0,51% ke level 53.414,25.
Indeks S&P 500 turut terkoreksi sebesar 0,38% dan berakhir di posisi 7.718,60.
Indeks Nasdaq Composite juga tidak mampu bertahan di zona hijau setelah melemah 0,29% menjadi 26.506,99.
Laporan ketenagakerjaan non-pertanian AS pada Agustus 2026 menunjukkan penambahan 162 ribu tenaga kerja baru.
Angka tersebut secara drastis melampaui proyeksi para ekonom dalam survei Dow Jones yang sebelumnya hanya memperkirakan angka di kisaran 53 ribu.
Tingkat pengangguran nasional tetap berada di level 4,1%, sejalan dengan prediksi awal para pelaku pasar.
Revisi kenaikan data tenaga kerja untuk periode Juni dan Juli turut memperkuat narasi ekonomi yang sedang panas.
Kondisi pasar tenaga kerja yang tangguh ini langsung memicu reaksi pada imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Yield US Treasury tenor dua tahun bahkan dilaporkan menyentuh level tertinggi sejak Januari 2025.
Kenaikan imbal hasil obligasi ini menjadi sinyal kuat bagi investor bahwa pengetatan moneter kemungkinan akan berlanjut.
Berdasarkan data CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed kini melonjak ke angka 58%.
Angka tersebut mencatatkan kenaikan tajam dibandingkan posisi hari sebelumnya yang hanya berada di level 49,4%.
Manajer Portofolio Janus Henderson Investors, Bradford Smith, menyatakan bahwa laporan ketenagakerjaan yang kuat memperbesar peluang kenaikan suku bunga pada September mendatang.
Ia menambahkan bahwa keputusan akhir bank sentral AS masih sangat bergantung pada data inflasi yang akan segera dirilis.
“Setelah pernyataan hawkish dari Ketua Warsh di Jackson Hole pekan lalu, terdapat kecenderungan yang jelas di The Fed untuk mengambil tindakan jika data yang akan dirilis tidak menunjukkan kemajuan lebih lanjut dalam proses disinflasi,” ujar Smith sebagaimana dikutip dari CNBC International, Senin (7/9).
Situasi ini berbanding terbalik dengan performa bursa pada Kamis (3/9) yang sempat ditutup menguat.
Penguatan tersebut terjadi setelah Gubernur Federal Reserve Christopher Waller memberikan indikasi dukungan untuk mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5%–3,75%.
Dukungan tersebut ditujukan untuk pertemuan The Fed yang dijadwalkan berlangsung pada 15–16 September mendatang.
Meskipun perdagangan Jumat berakhir merah, kinerja mingguan ketiga indeks utama Wall Street tetap menunjukkan hasil yang bervariasi.
Dow Jones tercatat mengalami penurunan mingguan sebesar 0,3%.
S&P 500 mampu bertahan dengan penguatan tipis sebesar 0,1%.
Nasdaq menjadi indeks dengan performa paling unggul sepanjang pekan ini dengan mencatatkan kenaikan sebesar 0,4%.
Para pelaku pasar kini menanti rilis data inflasi terbaru untuk mengukur arah kebijakan ekonomi AS selanjutnya.


