IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Program Hilirisasi Dorong Kinerja Emiten Tambang, Simak Rekomendasi Sahamnya

Pekerja meninjau fasilitas proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) milik PT Aneka Tambang Tbk di Mempawah.
PT Aneka Tambang Tbk terus menggenjot proyek hilirisasi melalui pembangunan fasilitas SGAR di Mempawah.

Jakarta, Gonesia.com — Program hilirisasi mineral kini menjadi katalis utama bagi emiten pertambangan di Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah produk sekaligus mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas mentah global.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi salah satu pemain kunci yang terus mendorong agenda ini melalui pengembangan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah.

Proyek tersebut dikerjakan melalui perusahaan patungan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) yang bekerja sama dengan Inalum.

Fase pertama proyek SGAR saat ini telah beroperasi dengan target produksi mencapai 1 juta ton alumina pada tahun 2026.

Perusahaan juga telah memulai pembangunan SGAR fase kedua pada Februari 2026 dengan nilai investasi mencapai Rp 14 triliun.

Kelola Dana Rp125 Triliun, MAMI Perluas Pilihan Produk Investasi

Proyek lanjutan ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2028 dengan proyeksi peningkatan kapasitas total hingga 2 juta ton per tahun.

Selain ANTM, emiten lain seperti PT Adaro Minerals Indonesia Tbk (ADMR) dan PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) turut menggenjot pembangunan smelter aluminium di Kalimantan Utara.

Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menyatakan bahwa prospek emiten yang terlibat dalam hilirisasi tetap positif karena adanya diversifikasi sumber pendapatan dan margin usaha yang lebih baik.

“Saya melihat dampak hilirisasi terhadap kinerja pada sisa tahun ini mulai terasa, tetapi masih bersifat bertahap. Sentimen positif utamanya berasal dari mulai beroperasinya beberapa fasilitas pengolahan mineral, meningkatnya kapasitas produksi, serta dukungan pemerintah terhadap pengembangan industri hilir,” ujar Alrich kepada Kontan, Rabu (22/7/2026).

Namun, para analis memperingatkan bahwa manfaat hilirisasi tidak akan dirasakan secara instan oleh investor.

Jelang Keputusan BI Rate, Rupiah Melemah ke Rp 17.910 per Dolar AS

Proyek smelter membutuhkan investasi belanja modal yang sangat besar dan waktu pembangunan yang panjang sebelum memberikan kontribusi penuh terhadap laba bersih perusahaan.

Tantangan lainnya mencakup risiko keterlambatan penyelesaian proyek serta volatilitas harga komoditas global yang masih sulit diprediksi.

Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menambahkan bahwa pasar saat ini akan lebih fokus pada progres penyelesaian proyek dan efisiensi operasional emiten.

Ia menegaskan bahwa kontribusi keuangan tidak akan langsung signifikan karena setiap smelter membutuhkan fase waktu untuk mencapai utilisasi optimal.

“Dengan demikian, dampak hilirisasi terhadap kinerja tahun ini cenderung lebih bersifat market sentimen, sementara manfaat finansial yang lebih besar kemungkinan baru akan terlihat secara bertahap seiring meningkatnya kapasitas produksi dan utilisasi fasilitas hilir,” lanjutnya.

Prospek Saham Telekomunikasi Menarik, Simak Rekomendasi Analis Samuel Sekuritas

Secara terpisah, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, mencatat bahwa kinerja emiten tambang pada kuartal pertama tahun ini secara umum cukup solid.

Ia menilai ANTM memiliki posisi yang lebih kuat karena terdiversifikasi di komoditas nikel, emas, dan bauksit.

Sementara itu, Research Analyst Henan Sekuritas, Tristan Elfan Zulvanian, menyebut ANTM sebagai pilihan utama karena memiliki rantai nilai yang lengkap, termasuk melalui PT Indonesia Chemical Alumina di Tayan.

Para analis merekomendasikan investor untuk melakukan akumulasi saham secara bertahap pada emiten yang memiliki fundamental kuat dan progres proyek yang sesuai target jangka panjang.

Komentar