Tanah Abang – Kondisi ini kian menyesakkan bagi sopir bajaj seperti Edi. Penghasilan rata-rata sebesar Rp 200 ribu yang hanya cukup untuk menghidupi dapur rumah dan pemilik bajaj, terpaksa harus dibagi ke pada preman yang datang tanpa bisa ditolak.
"Ada kecil-kecil dulu, Rp 5.000, Rp 5.000, tapi kan yang minta banyak," tutur Edi.
Kondisi ini bukan cerita baru yang terjadi belakang ini saja. Bagi Edi, praktik ini sudah mengakar sejak lama.
Bahkan, ada beberapa momen di mana para preman gencar melakukan pemalakan kepada para sopir. Salah satunya menjelang bulan puasa, di mana aktivitas Pasar Tanah Abang lebih ramai dari biasanya.
Bulan yang seharusnya identik dengan keberkahan, tapi justru berbeda bagi Edi dan kawan-kawannya. Ia justru disambut dengan tekanan pemalakan yang lebih intens, di tengah kebutuhan yang semakin meningkat.
Kondisi ini sangat membuat Edi resah. Namun, apalah daya baginya yang tak punya pilihan lagi selain memberinya. Menolak jatah, artinya ada risiko lebih besar yang akan dihadapi bagi Edi.
Ia mengaku, ancaman bagi para sopir bajaj kerap kali datang jika mereka menolak memberi jatah kepada para preman tersebut. Edi dan para sopir lainnya bisa saja tidak lagi diperbolehkan untuk mangkal di sekitar Tanah Abang, tempatnya mengais rezeki selama ini.
Bukan hanya dilarang mangkal, tapi lebih dari itu. Edi bercerita, aksi pengeroyokan atau pemukulan kerap kali terjadi kepada sopir bajaj maupun pedagang bagi yang menolak memberikan jatah.
Kala itu, sempat terjadi peristiwa tersebut. Tak ada yang berani melawan, bahkan petugas keamanan sekalipun.
"Ada security juga diam doang, security nggak berani," ungkap Edi.

