Bandung – Sektor pariwisata dan hospitality kembali menunjukkan daya serap tenaga kerja yang besar melalui International Grand Recruitment 2026. Ajang bursa kerja dua hari ini menghadirkan 6.800 lowongan dari berbagai industri, mulai dari perhotelan, restoran, kapal pesiar, hingga maskapai penerbangan, untuk penempatan di dalam dan luar negeri.
Kegiatan yang digelar atas inisiasi Ikatan Alumni (IKA) NHI Bandung bersama Politeknik Pariwisata (Poltekpar) NHI Bandung dan Kompensi STP Bandung itu memperlihatkan tingginya kebutuhan industri terhadap pekerja siap pakai. Ketua IKA NHI Bandung, Tantowi Yahya, menyebut jumlah peluang kerja yang tersedia jauh melampaui pencari kerja yang sudah terdaftar.
“Peluang yang tersedia mencapai sekitar 6.800 posisi, sementara jumlah pencari kerja yang terdaftar baru sekitar 2.000 orang. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan industri masih jauh lebih besar dibanding jumlah pelamar yang tersedia,” ujar Tantowi dikutip pada Rabu, 11 Juni 2026.
Menurut mantan Dubes Selandia Baru itu, perusahaan yang membuka rekrutmen tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga jaringan internasional. Hotel berbintang di Jakarta dan Bali, resor premium, kapal pesiar internasional, maskapai penerbangan Timur Tengah, hingga destinasi eksklusif Labuan Bajo ikut membuka kesempatan bagi tenaga kerja Indonesia.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, gelaran ini juga dianggap menjadi bukti bahwa kekhawatiran terhadap ancaman kecerdasan buatan terhadap lapangan kerja di sektor pariwisata belum sepenuhnya relevan. Tantowi menilai industri ini tetap bertumpu pada manusia dan kontak langsung dengan pelanggan.
“Pariwisata adalah industri berbasis manusia. Ada banyak aspek pelayanan yang membutuhkan empati, komunikasi, dan hubungan langsung dengan pelanggan yang tidak bisa digantikan oleh teknologi,” katanya.
Selain mengejar serapan tenaga kerja, penyelenggara juga menempatkan prinsip inklusivitas sebagai bagian penting dalam rekrutmen. Panitia membuka kesempatan bagi pencari kerja disabilitas yang memiliki kompetensi sesuai standar industri.
Bagi Tantowi, pendekatan semacam itu menjadi fondasi untuk membangun sektor pariwisata yang lebih berkelanjutan. Ia menyebut kolaborasi antara alumni, akademisi, dan pelaku industri diharapkan mampu memperkecil jarak antara pendidikan vokasi dan kebutuhan nyata pasar kerja.

