Jakarta – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meminta jajarannya mempercepat pembongkaran tiang monorel yang terbengkalai di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta Selatan. Ia menargetkan pembongkaran empat hingga lima tiang per hari, mengingat total ada 109 tiang mangkrak di sepanjang kawasan tersebut.
"Saya mencanangkan kan diselesaikan di bulan September. Tetapi setelah melihat kerjaan di lapangan, saya minta dipercepat. Kalau dulu hanya satu tiang satu hari, saya minta enggak, kalau perlu empat lima tiang sehari dan sekarang sudah dilakukan," kata Pramono di Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2026).
Pembongkaran tiang monorel di Jalan HR Rasuna Said sepenuhnya dilakukan oleh Dinas Bina Marga DKI Jakarta. Pramono menjelaskan bahwa saat ini fokus pada tiang yang memiliki beton, yang membutuhkan waktu lebih lama, sementara tiang-tiang tanpa beton hampir seluruhnya sudah terpotong.
Pramono meluruskan bahwa pembongkaran tiang monorel merupakan bagian dari penataan kawasan, termasuk perbaikan jalan, pembuatan selokan, dan pedestrian. "Sekali lagi saya ingin meluruskan karena sekarang ini masih ada yang menganggap bahwa pemotongan tiang itu Rp 100 miliar. Padahal enggak, Rp 100 miliar itu secara keseluruhan buat selokan, buat jalan, taman, pendestrian, dan sebagainya," kata Pramono.
Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta menargetkan pembongkaran tiang monorel rampung pada September 2026. Pramono memastikan seluruh proses pembongkaran dan penataan kawasan Jalan Rasuna Said dilakukan pada malam hari agar tidak mengganggu lalu lintas.
"Bahwa ini pengerjaannya akan dilakukan malam hari ya. Sehingga dengan demikian tidak ada penutupan jalur, dan mudah-mudahan saya sudah minta ke Bina Marga dan Perhubungan untuk pengaturan lalu lintas agar tidak macet. Karena ini jalan utama kita," ujar Pramono di sekitar Stasiun LRT Setiabudi, Jaksel, Rabu (14/1/2026).
Penataan kawasan Jalan HR Rasuna Said meliputi pembongkaran 109 tiang monorel yang telah mangkrak selama lebih dari dua dekade, sekaligus penataan ulang jalan. Pramono menjelaskan, anggaran yang dikucurkan Pemprov DKI Jakarta mencapai Rp102 miliar, dialokasikan untuk penataan kawasan secara menyeluruh.
"Jadi penataannya yang dibuat adalah penataan dibuat jalan, kemudian saluran trotoar, penerangan jalan umum, dan sarana kelengkapan lainnya dan juga tentunya estetika dari trotoar dan taman-taman yang ada. Sehingga Rp102 miliar itu untuk kebutuhan tersebut. Dan itu sudah dikaji secara mendalam," tegas Pramono.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menjelaskan, proses penataan ditargetkan selesai dalam delapan bulan atau hingga September 2026. Syafrin menyebut, pembongkaran tiang monorel dilakukan tanpa penutupan jalan, dengan pekerjaan malam hari pukul 23.00 WIB hingga 05.00 WIB, dengan skema pemotongan satu kolom tiang per malam.
"Jadi rekayasa lalu lintasnya adalah pertama tidak ada penutupan jalan. Dan karena pekerjaannya itu pada malam hari, dan sesuai rencana bahwa nantinya akan ada pemotongan tiang, itu rencana satu tiang satu malam," kata Syafrin. Penutupan hanya dilakukan bertahap pada lajur lambat dengan sistem staging, sementara arus kendaraan tetap berjalan.
"Untuk lajur lambatnya, jalur lambatnya ini akan dilakukan penutupan secara staging. Jadi misalnya di ruas ini yang akan ditutup, tadi di ujung kami lakukan penutupan, kemudian di bukaan depan itu otomatis yang dari lajur cepat itu bisa masuk ke jalur lambatnya. Demikian seterusnya sampai dengan di Simpang Gatot Subroto nantinya," tutup Syafrin.


