Jakarta, Gonesia.com – Bank Jakarta secara agresif memperluas penetrasi layanan keuangan bagi pelaku usaha mikro melalui inisiatif Akad Kredit Massal yang menyasar ratusan pedagang di Pasar Induk Kramat Jati pada Rabu, 2 September 2026.
Langkah strategis ini melibatkan 100 pedagang sebagai debitur perdana dalam gelombang terbaru yang turut disaksikan langsung oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno.
Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo, menyatakan bahwa program ini merupakan bagian dari upaya fundamental untuk membangun akses keuangan inklusif bagi pedagang agar mampu naik kelas secara ekonomi.
Ia menegaskan bahwa paradigma pelayanan bank kini harus bergeser dari menunggu nasabah menjadi proaktif menjemput bola di pusat-pusat aktivitas ekonomi rakyat.
“Kami tidak ingin pedagang yang sibuk mencari bank. Bank Jakarta yang harus semakin dekat dan hadir di tengah-tengah pedagang,” ujar Agus, dikutip dari keterangan resmi Katadata, Selasa (1/9).
Guna mendukung operasional di lapangan, lembaga keuangan ini telah mengoperasikan 243 Sentra Mikro yang tersebar secara merata di seluruh wilayah administratif DKI Jakarta.
Jaringan luas ini berfungsi sebagai garda terdepan untuk memahami karakteristik unik serta kebutuhan pembiayaan spesifik dari setiap ekosistem pasar yang berbeda-beda.
Hingga periode Juni 2026, catatan keuangan menunjukkan total penyaluran pembiayaan kepada pedagang pasar telah mencapai angka outstanding sebesar Rp326 miliar.
Dana tersebut disalurkan kepada 2.388 debitur yang tersebar di berbagai pusat perdagangan tradisional di ibu kota.
Khusus untuk kawasan Pasar Induk Kramat Jati, Bank Jakarta telah mengucurkan plafon kredit mencapai Rp48 miliar yang dinikmati oleh 167 pedagang.
Potensi ekspansi di wilayah ini dinilai masih sangat besar mengingat terdapat lebih dari 5.000 tempat usaha yang beroperasi di pusat perdagangan tersebut.
Pilihan produk yang ditawarkan mencakup Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga skema non-KUR dengan plafon maksimal mencapai Rp500 juta per debitur.
Agus menjelaskan bahwa indikator keberhasilan program ini tidak hanya dilihat dari nominal uang yang disalurkan kepada para pedagang.
“Bagi Bank Jakarta, keberhasilan bukan diukur dari seberapa besar kredit yang kami salurkan. Keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika pembiayaan tersebut membuat usaha pedagang berkembang, omzet bertambah, lapangan kerja tercipta, dan semakin banyak UMKM Jakarta naik kelas,” ujarnya.
Ke depan, perusahaan berencana mendorong pedagang untuk mengadopsi transaksi digital dan manajemen keuangan yang lebih formal.
Transformasi ini bertujuan untuk memutus ketergantungan pelaku usaha kecil terhadap sumber pembiayaan informal yang sering kali membebani dengan biaya bunga tinggi.
Langkah ini sekaligus memperkuat kolaborasi strategis antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Perumda Pasar Jaya.
Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan efek ganda bagi rantai pasok dan stabilitas ekonomi lokal di Jakarta.
Agus menambahkan bahwa transformasi digital perusahaan harus dibarengi dengan relevansi yang kuat terhadap kebutuhan riil masyarakat.
“Sebagai bank milik masyarakat Jakarta, transformasi Bank Jakarta tidak boleh hanya membuat kami semakin besar, semakin modern, dan semakin digital. Transformasi harus membuat Bank Jakarta semakin dekat dengan masyarakat dan semakin relevan bagi perekonomian Jakarta,” kata Agus.
Ia optimistis bahwa pendampingan berkelanjutan akan memastikan nasabah dapat bertumbuh dari skala mikro menjadi usaha menengah.
“Hari ini mungkin nasabah mikro, besok berkembang menjadi usaha kecil, kemudian menjadi usaha menengah. Bank Jakarta harus tetap hadir dan tumbuh bersama mereka,” tutup Agus.


