Jakarta, Gonesia.com – PT Jasa Marga Tbk (JSMR) mencatatkan perbaikan kualitas fundamental bisnis yang signifikan sepanjang semester I 2026, meski secara agregat pendapatan perusahaan mengalami penurunan.
Laba bersih perseroan tercatat tumbuh 2,01% secara tahunan menjadi Rp 1,91 triliun hingga akhir Juni 2026.
Penurunan pendapatan total sebesar 6% menjadi Rp 13,11 triliun dinilai bukan ancaman serius bagi operasional perusahaan.
Penyusutan angka pendapatan tersebut dipicu oleh melambatnya sektor konstruksi yang memiliki margin keuntungan sangat tipis.
Sebaliknya, segmen bisnis inti yakni pendapatan tol justru menunjukkan kinerja yang kuat dengan pertumbuhan 6,8% menjadi Rp 9,50 triliun.
Pendapatan dari lini usaha lainnya juga mencatatkan kenaikan impresif sebesar 17,6% menjadi Rp 798,2 miliar.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas, menyebutkan bahwa peningkatan laba ini membuktikan efektivitas strategi perusahaan.
“Peningkatan laba bersih menunjukkan kemampuan JSMR memonetisasi kenaikan tarif sekaligus mempertahankan margin,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa penyesuaian tarif serta beroperasinya Jasamarga Jogja–Solo seksi 1.2A menjadi motor utama pertumbuhan trafik.
Selain itu, efisiensi operasional berhasil menekan beban pokok pendapatan hingga 15,8% menjadi Rp 7 triliun.
Direktur Utama JSMR, Rivan A Purwantono menyatakan bahwa posisi keuangan perusahaan tetap kokoh untuk mendukung rencana strategis ke depan.
“Capaian EBITDA ini memperkuat kapasitas perseroan dalam menghasilkan arus kas yang solid untuk memenuhi kewajiban finansial, sekaligus mendukung agenda investasi dan ekspansi usaha secara berkelanjutan,” katanya.
EBITDA perseroan tercatat mencapai Rp 7 triliun dengan margin yang terjaga stabil di level 67,8%.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ester Mulyani, menyoroti perbaikan pada struktur pendapatan perusahaan secara keseluruhan.
Menurutnya, jika pendapatan konstruksi dikeluarkan, pendapatan inti JSMR sebenarnya tumbuh sekitar 7,6% menjadi Rp 10,3 triliun.
Ia menambahkan bahwa kenaikan laba kali ini lebih banyak ditopang oleh perbaikan revenue mix dan operating leverage, bukan hanya faktor non-operasional.
Prospek bisnis pada semester II 2026 diproyeksikan akan semakin membaik seiring dengan ramp-up ruas jalan tol baru.
Katalis positif lainnya bagi perusahaan adalah potensi optimalisasi aset melalui skema Danantara yang dapat mempercepat proses deleveraging.
Meski demikian, beban bunga dan utang yang mencapai Rp 73,4 triliun masih menjadi faktor pemberat yang harus diwaspadai investor.
Hingga saat ini, beban keuangan tercatat mencapai Rp 1,79 triliun, atau sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sukarno merekomendasikan beli untuk saham JSMR dengan target harga mencapai Rp 3.850 per lembar.
Sementara itu, Ester merekomendasikan strategi buy on breakout di atas level Rp 3.000 dengan target harga antara Rp 3.100 hingga Rp 3.200 per saham.


