Madiun – Aditya Dwi Saputra, petani hidroponik, mengalami peningkatan omzet 100 persen setelah menjadi pemasok sayuran untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebelumnya, ia hanya menghasilkan 7 hingga 8 kilogram selada per panen.
"Saya bekerja sama dengan dua dapur SPPG (Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi). Jika selama ini saya hanya bisa panen 7 sampai 8 kilogram saja, sekarang setiap hari saya bisa memasok 15 kg selada hidroponik per dapur," kata Aditya di kebunnya di Dusun Baliboto, Desa Pucang Anom, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, Jawa Timur.
Aditya mengaku sangat terbantu dengan kerja sama ini. Sebelumnya, ia kesulitan menjual selada hidroponiknya yang berkualitas dengan harga Rp 20 ribu per kilogram, lebih tinggi dari harga pasar. "Dengan bekerja sama dengan SPPG kami mendapatkan keutungan yang pasti," ujarnya.
Peningkatan omzet mendorong Aditya untuk memperluas kebun hidroponiknya. Permintaan sayuran kini datang tidak hanya dari Madiun, tetapi juga dari SPPG di kota lain. "Saya sedang mempersiapkan lahan hidroponik untuk produksi pakcoy," ujarnya.
Aditya bersyukur dapat mempekerjakan teman-temannya. Kebun hidroponik baru yang sedang disiapkannya juga membutuhkan tenaga kerja. "Untuk pemeliharaan dan pemanenan, sekarang ini ada dua orang yang bekerja di kebun," ujar petani tersebut.
Aditya berjanji akan menjaga kualitas sayurannya. Dengan keuntungan yang didapatkannya saat ini, ia merasa sangat beruntung. Ia berharap konsumen akan tetap memilih sayur sehat darinya dengan harga yang pasti.
"Kalaupun terjadi kenaikan harga, sampai saat ini saya tetap mematok harga sayuran saya 20 ribu per kilogram," ujarnya.


