IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Rupiah Melemah ke Rp 18.100 per Dolar AS, Kurs JISDOR Menguat

Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat
Nilai tukar rupiah di pasar spot menembus level Rp 18.111 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026.

JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah di pasar spot secara resmi menembus level psikologis baru di angka Rp 18.111 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026.

Data Bloomberg menunjukkan mata uang Garuda mengalami koreksi sebesar 0,22% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari Rabu sebelumnya yang berada di level Rp 18.073 per dolar AS.

Tren pelemahan ini mengonfirmasi tekanan berkelanjutan yang dialami rupiah sepanjang bulan Juli tahun ini.

Proyeksi pasar menunjukkan rupiah berpotensi mencatatkan pelemahan bulanan lebih dari 1% dalam kurun waktu tersebut.

Apabila angka tersebut terealisasi, maka ini menandai pelemahan bulanan secara berturut-turut untuk kelima kalinya sepanjang tahun 2026.

Laba PGEO Naik 15% di Semester I-2026, Begini Prospek Sahamnya

Situasi di pasar spot tampak kontras dengan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) milik Bank Indonesia.

Berdasarkan data JISDOR, rupiah justru mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,05% ke level Rp 18.078 per dolar AS.

Ini merupakan hari kedua berturut-turut nilai tukar rupiah dalam kurs referensi bank sentral tersebut bergerak menguat dari posisi sebelumnya di Rp 18.087 per dolar AS.

Kondisi pelemahan di pasar spot ini dipicu oleh tren penguatan dolar AS secara global di kawasan Asia.

Faktor utama yang mendorong penguatan mata uang Amerika tersebut adalah keputusan Federal Reserve yang memilih untuk mempertahankan suku bunga acuannya.

Bos GOTO Tanggapi Dampak Komisi 8% Terhadap Kinerja Perusahaan

Ketidakpastian kebijakan moneter ke depan semakin menguat setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, tidak memberikan petunjuk yang jelas mengenai arah kebijakan selanjutnya.

Sentimen negatif bagi mata uang kawasan, termasuk rupiah, juga diperparah oleh memanasnya situasi geopolitik global.

Amerika Serikat dilaporkan telah mengumumkan serangan udara terhadap Iran yang memicu kepanikan di pasar keuangan.

Ketegangan ini mendorong investor global kembali memburu dolar AS sebagai aset yang dianggap lebih aman dalam kondisi krisis.

Indeks dolar AS (DXY) yang menjadi tolok ukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau naik 0,1% ke level 100,93.

Pendapatan Astra Agro Lestari (AALI) Naik 5,62% di Semester I 2026

Sebelumnya, indeks tersebut sempat menyentuh level terendah sejak 20 Juli tepat setelah rilis hasil rapat kebijakan moneter The Fed.

Kondisi ekonomi makro yang volatil ini menuntut kewaspadaan ekstra dari para pelaku pasar dalam mengelola portofolio investasi mereka.

Pergerakan rupiah dalam jangka pendek diprediksi masih akan sangat bergantung pada dinamika geopolitik luar negeri dan respons pasar terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat.

Para analis tetap memantau perkembangan lebih lanjut mengenai intervensi bank sentral untuk menstabilkan nilai tukar domestik.

Hingga penutupan sesi sore ini, volatilitas di pasar valuta asing masih menunjukkan tren yang cukup dinamis.

Komentar