Bangkalan – Pertamina Hulu Energi (PHE) West Madura Offshore (WMO) mendorong konservasi laut dan ekonomi pesisir melalui Program Taman Wisata Laut Labuhan di Desa Labuhan, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur. Program ini merupakan respons terhadap kerusakan terumbu karang yang parah, di mana pada tahun 2017, tutupan karang hidup hanya tersisa 10-25 persen.
Mohamad Sahril, Ketua Kelompok Sadar Wisata Payung Kuning, menjelaskan bahwa Labuhan Mangrove awalnya merupakan tujuan riset bagi mahasiswa dan peneliti dari berbagai universitas, termasuk Universitas Brawijaya, ITS, dan Unair, serta rombongan pertukaran pelajar dari luar negeri.
"Banyak mahasiswa atau lembaga organisasi ke sini wisata edukasi, untuk bahan skripsi di sini dan lain-lain, meneliti terumbu karang, atau Mangrove, Lamun," ujarnya.
Aktivitas riset ini menggerakkan ekonomi desa, di mana setiap perjalanan ke laut menggunakan perahu sampan milik warga yang dikelola kelompok. Pengunjung membayar biaya yang dibagi antara kas kelompok dan pemilik perahu. "Untuk pengunjung itu Rp 50.000 per orang. Ada life jacket-nya. Jadi, Rp 10.000 untuk kas, Rp 40.000 yang punya sampan. Kalau booking satu sampan, itu Rp 650 ribu sampai Rp 700 ribu," imbuhnya.
Saat ini, kawasan laut belum dibuka untuk umum dan aktivitas bawah laut masih terbatas untuk kepentingan penelitian. "Satu hari lah. Kan banyak yang penelitian ke tengah, ambil plankton, apa itu. Ke nyelam, apa itu. Ke tempat pembukaan kami, apa itu. Yang penelitian bukan untuk umum. Kalau untuk umum belum dibuka. Untuk snorkeling belum dibuka," jelasnya.
Kebutuhan makan rombongan penelitian juga dialihkan ke warga melalui kelompok katering yang dibentuk, dengan sistem giliran yang merata. "Nah, bisa terbantu dari adanya wisatanya. Ya bisa memberdayakan masyarakat sekitar," kata Sahril.
Program Taman Wisata Laut Labuhan juga berdampak pada perubahan kebiasaan masyarakat, di mana mangrove yang dulu ditebang kini tumbuh kembali dan burung-burung yang sebelumnya diburu tidak lagi diganggu. Sebelumnya, abrasi pantai mencapai 5,24 meter per tahun, sementara hasil tangkapan nelayan merosot dari 30-40 kilogram menjadi kurang dari 10 kilogram per sekali melaut.


