Jakarta, Gonesia.com – Efisiensi operasional kini menjadi indikator penentu utama daya saing perbankan nasional, mengalahkan dominasi besaran aset yang selama ini menjadi tolok ukur tradisional.
Fenomena ini terlihat jelas pada kinerja dua raksasa keuangan tanah air, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), sepanjang semester pertama 2026.
Kedua bank tersebut mencatatkan perolehan laba bersih yang hampir setara, yakni di kisaran Rp 29 triliun hingga Rp 30 triliun.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kesenjangan aset yang sangat signifikan antara keduanya.
Data konsolidasian menunjukkan total aset Bank Mandiri mencapai Rp 2.527 triliun, sementara BCA hanya mengelola aset sebesar Rp 1.608 triliun.
Selisih aset sebesar Rp 867 triliun tersebut memicu perdebatan mengenai efektivitas produktivitas aset di industri perbankan modern.
Pengamat perbankan, Moch Amin Nurdin, menyatakan bahwa industri saat ini sedang mengalami perubahan paradigma yang mendasar.
“Dalam industri perbankan modern, yang lebih menentukan adalah kemampuan bank mengubah aset menjadi pendapatan secara efisien dengan tingkat risiko yang terkendali,” kata Amin kepada Katadata.co.id, Jumat (31/7).
Ia menjelaskan bahwa keunggulan BCA terletak pada struktur pendanaan yang sangat efisien melalui dominasi dana murah atau current account saving account (CASA).
Struktur CASA mencapai 84,3% dari total dana pihak ketiga (DPK) BCA, jauh melampaui capaian Mandiri yang berada di level 69,2%.
Kondisi tersebut secara langsung menekan biaya dana atau cost of fund BCA menjadi salah satu yang paling rendah di industri.
Efisiensi ini tercermin dari rasio Return on Asset (ROA) BCA yang mencapai 3,82%, lebih unggul dibandingkan Mandiri yang mencatatkan angka 3,10%.
Ia menambahkan, “Karena itu, bila laba kedua bank relatif sama sementara aset Mandiri jauh lebih besar, secara matematis memang dapat dikatakan bahwa produktivitas aset BCA saat ini lebih tinggi.”
Meskipun demikian, perbedaan rasio tersebut tidak serta-merta menempatkan kualitas bisnis Bank Mandiri di bawah pesaingnya.
Amin menegaskan bahwa model bisnis kedua institusi tersebut memiliki perbedaan fundamental yang tidak bisa disamaratakan.
Sebagai bank pelat merah, Mandiri memikul tanggung jawab strategis dalam pembiayaan korporasi besar, proyek infrastruktur, hingga sektor prioritas pemerintah.
Portofolio tersebut cenderung memiliki profil risiko yang berbeda dengan tenor yang lebih panjang serta margin yang lebih tipis.
“Dengan demikian, aset yang lebih besar tidak selalu menghasilkan laba yang proporsional lebih tinggi, karena setiap jenis aset memiliki tingkat pengembalian (yield) dan profil risiko yang berbeda,” ujarnya.
Dia menepis anggapan bahwa Mandiri sedang mengalami penurunan imbal hasil atau diminishing return akibat ekspansi aset yang masif.
Menurutnya, penilaian terhadap kinerja bank memerlukan tinjauan jangka panjang yang melampaui satu periode laporan keuangan.
Ke depan, pasar diprediksi akan semakin selektif dalam memberikan valuasi berdasarkan kemampuan bank menghasilkan return maksimal dari setiap rupiah aset yang dikelola.
“Di situlah sesungguhnya kualitas sebuah bank akan dinilai oleh pasar dan para investor,” tuturnya.


