JAKARTA, Gonesia.com – Nilai tukar rupiah menutup perdagangan akhir pekan ini dengan performa positif di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang dolar Amerika Serikat di pasar global.
Mata uang Garuda berhasil menguat sebesar 0,49 persen ke level Rp 18.022 per dolar AS pada perdagangan Jumat (31/7/2026).
Pencapaian ini sekaligus membalikkan keadaan dibandingkan posisi penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp 18.111 per dolar AS.
Data dari Bloomberg mencatat penguatan tersebut sebagai respons pasar terhadap dinamika ekonomi makro yang terjadi sepanjang pekan ini.
Meski mencatatkan penguatan harian, secara akumulatif dalam satu minggu terakhir, rupiah masih tertekan dengan pelemahan sekitar 0,33 persen.
Sentimen positif juga terpancar dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan oleh Bank Indonesia.
Posisi rupiah berdasarkan acuan Jisdor tercatat berada di level Rp 18.058 per dolar AS.
Angka tersebut menunjukkan apresiasi sebesar 0,11 persen jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya yang berada di level Rp 18.078 per dolar AS.
Penguatan pada kurs Jisdor ini sekaligus menandai tren positif yang berkelanjutan selama tiga hari perdagangan berturut-turut.
Sementara itu, kondisi di pasar valuta asing global menunjukkan pergerakan yang cukup fluktuatif bagi indeks dolar AS.
Indeks dolar yang mengukur performa greenback terhadap enam mata uang utama dunia sempat naik tipis ke level 100,22.
Kenaikan tersebut terjadi setelah indeks dolar sempat mengalami penurunan signifikan sebesar 0,8 persen pada satu hari sebelumnya.
Secara mingguan, indeks dolar AS sebenarnya masih berada dalam tren negatif dengan penurunan sekitar 1,2 persen.
Bahkan, sepanjang bulan Juli 2026, indeks dolar tercatat telah mengalami pelemahan sebesar 0,9 persen.
Pelemahan mata uang Amerika Serikat ini dipicu oleh ekspektasi pasar mengenai kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed.
Pelaku pasar kini cenderung meyakini bahwa laju kenaikan suku bunga Federal Reserve tidak akan seagresif proyeksi sebelumnya.
Keyakinan tersebut muncul setelah bank sentral AS memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya dalam pertemuan terakhir mereka.
Keputusan The Fed tersebut memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk melakukan konsolidasi.
Stabilitas yang ditunjukkan rupiah pada akhir pekan ini memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Para investor kini tengah memantau langkah lanjutan dari otoritas moneter global guna menyesuaikan portofolio investasi mereka.
Pergerakan nilai tukar di masa depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh data inflasi dan kebijakan suku bunga di Amerika Serikat.
Stabilitas domestik yang terjaga melalui intervensi Bank Indonesia melalui Jisdor diharapkan mampu meredam volatilitas lebih lanjut.
Kondisi ini menegaskan bahwa pasar keuangan Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah arus modal yang dinamis.


