Jakarta – Paiton Energy tengah menyiapkan langkah baru untuk memperluas pasokan listrik sekaligus menekan emisi. Perusahaan yang saham mayoritasnya dikuasai Medco Group itu membuka peluang menggandeng Mitsubishi Power dari Jepang untuk membangun pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) yang bisa memakai campuran hidrogen.
Presiden Direktur Paiton Energy Fazil Erwin Alfitri mengatakan kebutuhan listrik yang terus naik membuat perusahaan tidak bisa hanya bergantung pada pembangkit yang ada. Di saat yang sama, industri kelistrikan juga dituntut beralih ke sumber energi yang lebih bersih.
“Sekarang kami bicara dengan Mitsubishi Power, teknologi turbin gas yang sangat advanced, yang juga bisa beroperasi dengan hidrogen,” ujar Fazil dalam diskusi di Jakarta, Kamis (24/9).
Paiton Energy sendiri bukan pemain baru di sektor ini. Perusahaan yang berdiri sejak 1994 itu saat ini mengoperasikan tiga PLTU batu bara di Probolinggo, Jawa Timur, dengan total kapasitas 2,04 GW. Berdasarkan data di situs perusahaan, pembangkit tersebut menyumbang sekitar 6 persen konsumsi listrik tahunan di Pulau Jawa.
Di tengah tingginya permintaan, Fazil menilai memensiunkan PLTU batu bara belum menjadi pilihan yang tepat. Menurut dia, penghentian justru berisiko menimbulkan kekurangan pasokan karena pertumbuhan kebutuhan listrik masih sangat cepat.
“Kalau kami pensiunkan, tidak ada penggantinya, sementara growth lagi tinggi-tingginya,” katanya. “Jadi, yang kami butuhkan adalah peningkatan kapasitas, tapi dengan energi yang lebih bersih,” lanjut dia.
Saat ini, emisi karbon Paiton Energy berada di kisaran 913 gram per kWh listrik yang dihasilkan. Fazil menyebut penambahan kapasitas PLTGU sebesar 2,6 GW berpotensi menurunkan rata-rata intensitas emisi karbon seluruh unit pembangkit hingga 34 persen.
“Kapasitasnya jadi lebih besar, tapi jejak karbonnya jadi lebih sedikit,” ujarnya. Ia menambahkan, intensitas emisi akan terus menurun seiring pemanfaatan hidrogen dan amonia sebagai bahan bakar PLTGU.
Dalam dokumen Clean Gas Technology Roadmap: 2025-2060, Paiton Energy membagi transisi energinya ke dalam tiga tahap. Gas ditempatkan sebagai jembatan dari batu bara menuju hidrogen dan amonia.
Pada fase 2025-2030, perusahaan fokus membangun PLTGU dengan teknologi yang siap memakai hidrogen. Di periode yang sama, Paiton juga menyiapkan rantai pasok LNG, infrastruktur FSRU di Jawa, serta melengkapi pembangkit gas dengan tenaga surya dan baterai.
Tahap berikutnya, 2030-2040, diarahkan pada pemakaian campuran hidrogen dan amonia di PLTU maupun PLTGU yang sudah beroperasi. Fazil menyebut sebagian besar turbin gas saat ini memang sudah dirancang agar siap menggunakan hidrogen.
“Hampir semua turbin gas hari ini itu hydrogen ready, mungkin 20-30 persen (campuran hidrogen),” kata Fazil.
Paiton Energy juga menyiapkan proyek percontohan carbon capture and storage (CCS) untuk sektor ketenagalistrikan dengan kapasitas sekitar 1 GW. Bersamaan dengan itu, perusahaan akan mempercepat pengurangan ketergantungan pada batu bara, memulai produksi amonia hijau, dan memakai turbin gas siap hidrogen dalam pengadaan pembangkit baru.
“Baru nanti pada 2040-2060, yang kami perlu lakukan adalah deep decarbonize,” ucapnya.
Pada fase terakhir itu, Paiton menargetkan teknologi PLTGU dapat memakai hidrogen atau amonia hingga 100 persen. Perusahaan juga akan menerapkan CCS skala penuh pada pembangkit listrik tenaga panas yang masih beroperasi.
Ke depan, pembangkit gas juga disiapkan untuk menjadi penyeimbang bagi energi terbarukan yang bersifat intermiten seperti angin dan surya. Paiton menargetkan net zero emission pada 2060 lewat portofolio energi yang lebih bersih.
Dari sisi teknologi, Mitsubishi Power melihat peluang yang sama. Presiden Direktur Mitsubishi Power Indonesia Nobuhiro Kawai mengatakan perusahaan berupaya mendukung kenaikan kebutuhan listrik tanpa mengabaikan aspek keandalan, efisiensi, dan penurunan emisi.
“Peran kami adalah menyediakan teknologi yang dapat mendukung transisi yang praktis ini, mulai dari turbin gas berefisiensi tinggi dengan fleksibilitas bahan bakar hidrogen, solusi panas bumi, optimalisasi aset, hingga riset jangka panjang dengan mitra lokal,” kata Kawai.
Ia menjelaskan, turbin gas seri JAC milik Mitsubishi Power memiliki efisiensi combined cycle lebih dari 64 persen dan tingkat keandalan 99,6 persen. Turbin J-Series juga mampu menggunakan campuran hingga 30 persen hidrogen, dengan pengembangan menuju kadar yang lebih tinggi.
Mitsubishi Power telah lebih dari tiga dekade berkecimpung di industri ketenagalistrikan Indonesia. Saat ini, sekitar 19 GW kapasitas terpasang atau sekitar 30 persen dari total kapasitas listrik nasional menggunakan teknologi perusahaan asal Jepang tersebut.


