Jakarta, Gonesia.com – PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatatkan lonjakan kinerja keuangan yang spektakuler dengan membukukan laba bersih sebesar US$ 497,92 juta atau setara dengan Rp 8,89 triliun pada semester pertama 2026.
Capaian positif ini menandai pembalikan arah bisnis perusahaan secara drastis dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, di mana perseroan sempat menelan kerugian sebesar US$ 148,72 juta atau sekitar Rp 2,65 triliun.
Lonjakan laba tersebut didorong oleh kenaikan pendapatan perusahaan yang mencapai 1.023,2 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi US$ 2,05 miliar atau sekitar Rp 36,58 triliun.
Sumber pendapatan utama perseroan bersumber dari penjualan konsentrat sebesar US$ 1,078 miliar, diikuti oleh kontribusi katoda tembaga senilai US$ 663 juta, serta emas murni sebesar US$ 311 juta.
Direktur Utama AMMAN, Arief Sidarto, melalui laporan resmi Katadata, menyatakan bahwa performa impresif pada semester pertama 2026 didorong oleh peningkatan produksi yang masif di seluruh lini operasi.
Ia menambahkan, produksi konsentrat perusahaan melonjak 81 persen menjadi 347.307 metrik ton kering dibandingkan tahun lalu.
Produksi tembaga tercatat melesat 136 persen menjadi 211 juta pon, sementara produksi emas mengalami lonjakan signifikan sebesar 481 persen menjadi 346.354 ons.
Peningkatan tersebut dimungkinkan berkat efektivitas penambangan bijih segar serta perolehan kadar bijih yang lebih tinggi di lapangan.
Di sisi operasional hilir, perusahaan juga mencatat rekor produksi baru pada smelter dan Precious Metals Refinery (PMR) sepanjang Juli hingga Agustus 2026.
“Kami juga memulai proses komisioning ekspansi pabrik konsentrator dengan bijih pertama berhasil masuk ke pabrik konsentrator pada pertengahan Agustus 2026,” ujarnya.
Seiring dengan peningkatan operasional, Direktur Keuangan AMMAN, Anthony Mathias, mengungkapkan bahwa EBITDA perusahaan turut melonjak menjadi US$ 1,13 miliar dengan margin mencapai 55 persen.
Ia menyebutkan, arus kas yang kuat telah dimanfaatkan secara strategis untuk mempercepat pembayaran utang perusahaan.
“Sehingga utang bersih turun 13% menjadi US$5 miliar per 30 Juni 2026,” lanjutnya.
Meskipun pendapatan melonjak, perusahaan justru mencatatkan penurunan belanja modal sebesar 82 persen menjadi US$ 130 juta akibat fase penyelesaian proyek ekspansi utama.
Ke depan, AMMAN kini mengalihkan fokus strategisnya pada pengembangan proyek “super giant” tambang Elang sebagai langkah keberlanjutan pasca-Batu Hijau.
Perusahaan telah menyelesaikan laporan Joint Ore Reserves Committee (JORC) pada kuartal ketiga 2026 dan menargetkan keputusan investasi final atau Final Investment Decision (FID) pada tahun 2027.
Tambang Elang diproyeksikan mulai menghasilkan bijih pertama pada periode 2031 hingga 2032 dengan memanfaatkan infrastruktur terintegrasi yang telah dibangun sebelumnya.
AMMAN juga merevisi panduan produksi emas dalam konsentrat tahun 2026 menjadi 775.000 ons atau naik 34 persen dari target sebelumnya.
Perseroan berkomitmen menjaga disiplin biaya dan keandalan operasional untuk memastikan target kinerja akhir tahun tetap tercapai.


