Lima – Gelombang frustrasi menyelimuti Peru pasca-pemilihan presiden yang belum menemui titik akhir. Polisi menggerebek kediaman mantan Kepala Kantor Pemilu Nasional (ONPE), Piero Corvetto, Jumat (5/5), di tengah sorotan tajam terhadap proses penghitungan suara.
Penggerebekan ini merupakan bagian dari penyelidikan atas dugaan penyimpangan dalam pemilihan presiden yang digelar pada 12 April lalu.
Tim dari unit anti-korupsi menyita sejumlah barang bukti, termasuk telepon seluler, laptop, dan dokumen dari rumah Corvetto. Selain Corvetto, rumah lima pejabat lainnya dan kantor perusahaan pengangkut surat suara, Galaga, juga menjadi target penggerebekan.
Corvetto sendiri telah mengundurkan diri dari jabatannya pada hari Selasa, dengan harapan keputusannya dapat memulihkan kepercayaan publik terhadap proses pemilihan. Ia membantah terlibat dalam tindakan kesalahan atau penyimpangan.
Pengacara Corvetto, Ricardo Sanchez Carranza, mengungkapkan bahwa hakim mengizinkan penggerebekan, namun menolak permintaan jaksa untuk menahan kliennya.
Kontroversi semakin memanas dengan tuduhan keras dari salah satu kandidat presiden, Rafael Lopez Aliaga. Mantan wali kota sayap kanan Lima ini menyebut Corvetto sebagai “kriminal” dan berjanji akan terus mengejarnya.
Aliaga saat ini tengah bersaing ketat untuk memperebutkan posisi kedua dalam pemilihan presiden.
Hingga saat ini, dengan 95 persen suara telah dihitung, Keiko Fujimori memimpin dengan 17 persen suara dan hampir pasti melaju ke putaran kedua pada 7 Juni.
Namun, perebutan posisi kedua masih sengit. Roberto Sanchez meraih 12,03 persen suara, unggul tipis dari Lopez Aliaga yang mengantongi 11,9 persen. Selisih sekitar 20.000 suara memisahkan kedua kandidat ini.
Aliaga semakin lantang mengecam proses pemilihan dan menyebutnya sebagai “kecurangan pemilu yang unik di dunia,” meskipun belum memberikan bukti yang mendukung klaimnya.
Hasil akhir pemilihan presiden Peru diperkirakan akan diumumkan pada 15 Mei mendatang.

