Jakarta – Sektor manufaktur Indonesia menunjukkan performa yang menjanjikan di awal tahun 2026. Ratusan perusahaan industri melaporkan pembangunan pabrik baru.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat ada 633 perusahaan yang melakukan pembangunan fasilitas produksi atau pabrik baru pada kuartal pertama tahun 2026.
Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan bahwa hal ini adalah indikasi kuatnya kinerja sektor manufaktur.
“Kontribusinya terus meningkat, penyerapan tenaga kerja bertambah, investasi semakin tumbuh, dan tetap menjadi penopang utama ekonomi nasional. Ini bukti bahwa struktur industri Indonesia semakin kokoh,” ujar Febri dalam keterangan tertulis (24/4/2026).
Ratusan pabrik yang akan dibangun ini memiliki nilai investasi mencapai Rp 418,62 triliun dan diperkirakan menyerap 219.684 tenaga kerja.
Subsektor industri pengolahan tembakau mendominasi jumlah pembangunan pabrik baru, yaitu sebanyak 72 perusahaan.
Kemudian disusul oleh industri minuman (67 perusahaan), industri makanan (60 perusahaan), serta industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia (49 perusahaan).
Dari sisi nilai investasi, industri logam dasar menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp 218,04 triliun dari 24 perusahaan.
Industri bahan kimia dan barang dari bahan kimia menempati posisi kedua dengan nilai Rp 81,22 triliun, diikuti industri barang galian bukan logam sebesar Rp 12,1 triliun.
Sementara itu, industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki menjadi sektor yang paling banyak menciptakan lapangan kerja, dengan perkiraan menyerap 37.350 orang.
Industri logam dasar menyusul dengan 25.592 orang, dan industri bahan kimia serta barang dari bahan kimia sebanyak 9.065 orang.
Menurut Febri, aktivitas pembangunan fasilitas produksi ini mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap prospek permintaan domestik maupun ekspor.
Hal ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan manufaktur nasional di tahun 2026.
Pemerintah, kata Febri, terus mengarahkan investasi ke sektor-sektor prioritas seperti industri makanan dan minuman, kimia, farmasi, otomotif, elektronika, tekstil, hingga industri berbasis hilirisasi sumber daya alam.
Febri menambahkan, sektor manufaktur Indonesia mampu bertahan di tengah tekanan rantai pasok global, fluktuasi harga energi, dan tensi geopolitik yang dialami negara lain.
Pertumbuhan industri nasional yang di atas 5 persen menunjukkan resiliensi dan daya saing industri Indonesia yang terus meningkat.
Kemenperin optimistis pertumbuhan industri akan terus berlanjut dengan implementasi kebijakan penghiliran industri, substitusi impor, penguatan TKDN, transformasi industri 4.0, dan perluasan pasar ekspor nontradisional.

