IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
Ekonomi

Purbaya Ungkap Penyebab Rupiah Melemah Akibat Sentimen Domestik

JAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.228 per dolar Amerika Serikat pada Jumat (24/4/2026) dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Secara internal, kondisi ini diperparah oleh berbagai sentimen negatif atau *noise* yang membentuk ekspektasi pasar kurang baik terhadap mata uang Indonesia.

Purbaya menjelaskan bahwa narasi mengenai ekonomi Indonesia yang dianggap terpuruk serta isu pengelolaan fiskal yang bermasalah telah menciptakan sentimen negatif yang meluas. Hal inilah yang kemudian menekan pergerakan rupiah.

Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa otoritas untuk melakukan stabilisasi nilai tukar berada sepenuhnya di tangan Bank Indonesia (BI), bukan Kementerian Keuangan.

“Rupiah dipengaruhi kondisi global dan ekspektasi. *Noise* di dalam negeri itulah yang membentuk ekspektasi tersebut. Namun, stabilisasi bukan ranah saya, jadi saya tidak bisa masuk ke sana,” jelas Purbaya saat memberikan keterangan di kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK), Jakarta.

Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyampaikan bahwa pelemahan rupiah saat ini masih sejalan dengan tren mata uang di kawasan Asia yang rata-rata terkoreksi sebesar 3,54 persen secara *year to date*. Menurutnya, ketidakpastian global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah, menjadi pemicu utama tekanan pada mata uang regional.

Harga Emas Antam Turun ke Rp2,6 Juta, Analis Proyeksikan Potensi Kenaikan

Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia menyatakan terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. BI memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna meningkatkan daya tarik aset domestik bagi para investor.

Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar *offshore* (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Selain itu, BI memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan posisi cadangan devisa per akhir Maret 2026 yang tercatat sebesar US$148,2 miliar. Angka tersebut dinilai masih cukup kuat untuk menahan tekanan pasar ke depan.

“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Destry.

Komentar
Prediksi IHSG Hari Ini 10 September 2026 dan Rekomendasi Saham Pilihan

Berita Populer

01

Daftar Saham Baru Indeks KOMPAS100 dan Rekomendasi Analis Agustus 2026

02

YLKI Soroti Pemblokiran Rekening Bank Mandiri dan Ingatkan Hak Nasabah

03

Purbaya Nilai Jakarta Tak Perlu Terbitkan Obligasi untuk Pembangunan Infrastruktur

04

UMK 2026: Daftar Lengkap Wilayah dengan UMK Tertinggi & Terendah

05

Proyeksi Kinerja ANTM Tetap Kuat di Tengah Bayang Risiko Regulasi

06

Akselerasi Dekarbonisasi Industri Indonesia Melalui RUEN 2026–2035

07

Profil Ikhwan Ali Tanamal, Debutan Gemilang Persib Bandung Lawan Arema FC

08

Cara Mudah Beli Paket Data Semua Operator Lewat Aplikasi GoPay

Berita Terbaru