JAKARTA, Gonesia.com – Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi ujian berat bagi para pelaut Indonesia yang bertugas mengoperasikan kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS).
Sebanyak 23 kru kapal VLCC Pertamina Pride, termasuk Rizqi Rafif, berhasil menuntaskan misi pelayaran melintasi jalur pelayaran paling berisiko di dunia tersebut pada 8 Juli 2026.
Kapal tersebut kemudian tiba dengan selamat di perairan Cilacap pada 24 Juli 2026 setelah menempuh perjalanan panjang di tengah eskalasi konflik regional.
Pencapaian serupa juga diraih oleh seluruh awak kapal Gamsunoro yang sukses melintasi jalur yang sama pada 25 Juni 2026.
Kapal Gamsunoro kini telah kembali beroperasi melayani pelanggan pihak ketiga di kawasan perairan Singapura.
Keberhasilan para kru kapal ini mendapatkan apresiasi tinggi dari manajemen melalui sambutan hangat via konferensi video.
Daryl Josua Makaminang, Third Officer di kapal Gamsunoro, mengungkapkan bahwa situasi perang di kawasan Teluk sempat memicu kekhawatiran mendalam bagi seluruh awak.
Ia menyatakan, “Kami tentu cukup khawatir dengan situasi perang saat itu. Syukur kami dapat melewati Selat Hormuz dengan selamat.”
Gamsunoro sendiri harus melintasi jalur selatan Selat Hormuz dengan pengawalan ketat dari US Navy untuk memastikan keamanan.
Kondisi lapangan sangat dinamis karena hanya berselang satu hari setelah kapal melintas, dilaporkan terjadi serangan terhadap kapal lain di kawasan tersebut.
Tantangan teknis juga menjadi kendala nyata bagi para pelaut saat menavigasi kapal di tengah ancaman konflik.
Rizqi Rafif menceritakan bahwa tim navigasi harus menghadapi gangguan sistem GPS yang memerlukan kewaspadaan ekstra.
Ia menuturkan, “Kami sempat khawatir. Dalam situasi seperti itu muncul pertanyaan harus mengikuti pihak yang mana. GPS juga mengalami jamming. Bisa dibilang kami sangat beruntung dapat melewati semuanya dengan selamat.”
Setiap kapal rata-rata menghabiskan waktu sekitar delapan jam untuk melintasi kawasan tersebut, dengan empat jam di antaranya berada di titik paling kritis.
Direktur Utama PT Pertamina International Shipping, Surya Tri Harto, memberikan apresiasi atas profesionalisme kru dalam mengelola krisis.
Menurut laporan JPNN.com, ia menegaskan bahwa keselamatan manusia tetap menjadi prioritas mutlak perusahaan di atas target operasional maupun kargo.
Ia mengatakan, “Keberhasilan ini bukan hanya soal disiplin operasional, tetapi juga tentang kemanusiaan. Sejak kapal memasuki kawasan Teluk, kami terus memantau perkembangan kondisi para kru. Keselamatan seluruh awak kapal selalu menjadi prioritas utama kami, bahkan sebelum kargo dan aktivitas operasional.”
Surya menambahkan bahwa para pelaut tersebut layak dianggap sebagai pahlawan di tengah risiko yang melampaui tugas normal mereka.
Ia menyatakan, “Bagi kami, kalian adalah pahlawan. Dalam kondisi normal saja para pelaut sudah harus menghadapi ombak, angin, dan lautan. Di Selat Hormuz, kalian menghadapi risiko yang jauh lebih besar. Semoga seluruh kru selalu diberikan keselamatan dalam setiap pelayaran berikutnya dan situasi dunia dapat segera membaik.”
Kini, fokus perusahaan beralih pada pemulihan performa armada untuk mendukung kelancaran pelayaran di masa depan.
Kapal Gamsunoro telah menjalani proses hull cleaning untuk mengembalikan kecepatan optimal kapal.
Sementara itu, Pertamina Pride melakukan underwater hull cleaning sebagai langkah persiapan teknis untuk misi pelayaran selanjutnya.
Manajemen memastikan bahwa seluruh protokol keselamatan tetap menjadi acuan utama bagi setiap kapal yang beroperasi di wilayah dengan tingkat risiko tinggi.
Hingga saat ini, kondisi seluruh kru dikabarkan dalam keadaan sehat dan siap kembali menjalankan tugas profesional mereka.


