News

Israel Sepakati Gencatan Senjata dengan Hizbullah, Siap Beri Balasan Tegas

Washington – Pemerintah Israel secara resmi menyatakan kesediaan untuk menghentikan operasi ofensif terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi diplomatik yang lebih luas guna menjaga stabilitas kesepakatan baru yang terjalin antara Amerika Serikat dan Iran. Pengumuman ini menjadi sinyal penting di tengah upaya internasional untuk meredam eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.

Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, menyampaikan komitmen tersebut pada Jumat (19/6) melalui platform media sosial. Leiter menegaskan bahwa Tel Aviv telah menghentikan seluruh aktivitas serangan agresif sebagai bentuk penghormatan terhadap kerangka kerja kesepakatan yang baru saja disepakati oleh pihak Washington dan Teheran pekan ini.

Meski demikian, Israel memberikan catatan tegas terkait implementasi gencatan senjata tersebut. Leiter menekankan bahwa komitmen Israel untuk tidak menyerang sangat bergantung pada kepatuhan Hizbullah di lapangan. Jika kelompok tersebut benar-benar menghentikan permusuhan dan menaati perjanjian yang ada, maka Israel menjamin akan memberikan ketenangan di perbatasan. Sebaliknya, Israel tetap mempertahankan hak untuk merespons jika merasa keamanan negaranya terancam atau jika pihak lawan kembali melakukan aksi provokasi.

Di sisi lain, Tel Aviv tetap menjalankan operasi militer terbatas di wilayah selatan Lebanon. Leiter menjelaskan bahwa kehadiran pasukan Israel di wilayah tersebut bertujuan untuk menuntaskan misi pembersihan infrastruktur militer yang diklaim sebagai basis operasional Hizbullah. Operasi ini akan terus berlanjut hingga seluruh target strategis dianggap telah selesai dibongkar. Hingga saat ini, pihak Hizbullah belum memberikan tanggapan resmi mengenai pernyataan tersebut maupun keterkaitan mereka dengan kesepakatan yang tengah dibangun antara AS dan Iran.

Keputusan untuk menahan diri ini dinilai sebagai taruhan besar bagi stabilitas regional. Gencatan senjata di Lebanon dipandang sebagai prasyarat krusial bagi keberlangsungan kesepakatan AS-Iran yang mencakup penghentian konflik di berbagai front. Pihak Iran sebelumnya telah menyampaikan kekhawatiran bahwa ketegangan yang berkelanjutan antara Israel dan Hizbullah dapat menggagalkan implementasi perjanjian bilateral tersebut.

Polda Metro Jaya Jadwalkan Pelimpahan Kasus Roy Suryo dan Dokter Tifa

Dampak dari ketegangan ini pun mulai terasa pada agenda diplomasi internasional. Pertemuan teknis antara pejabat Amerika Serikat dan Iran yang sedianya dijadwalkan berlangsung di Swiss dilaporkan mengalami penundaan. Pemerintah Swiss mengonfirmasi penundaan tersebut, sementara sejumlah diplomat mengungkapkan bahwa delegasi Iran memilih menarik diri dari agenda pembicaraan akibat serangan yang terjadi di Lebanon. Hingga laporan ini diturunkan, belum ada keterangan lebih lanjut mengenai kapan negosiasi di Swiss akan kembali dilanjutkan, mengingat situasi keamanan di Lebanon masih menjadi variabel penentu bagi keberlangsungan dialog tingkat tinggi antara Teheran dan Washington.

Komentar

Berita Populer

01

KCIC Tambah Enam Perjalanan Whoosh, Arus Balik Bandung-Jakarta Padat

02

DSI Perkuat Tata Kelola Ekspor dan Devisa Nasional

03

Strategi ANTM Perkuat Pasar Domestik di Tengah Rencana Ekspor BUMN

04

Purbaya Tekankan Pancasila dalam Kelola Keuangan Negara

05

Warga Jakarta Berbondong-Bondong Manfaatkan Pemutihan Pajak Kendaraan

06

Aher Apresiasi Dukcapil Hentikan Fotokopi e-KTP Demi Data Pribadi

07

Kejagung Geledah Kantor BGN Pusat Jakarta Usai Ganti Pimpinan

08

Harga Avtur Turun, Mengapa Surcharge Tiket Pesawat Tetap Tidak Berubah?

Berita Terbaru