Lombok Barat – Anggota Komisi I DPR RI Farah Puteri Nahlia menilai capaian Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kemkomdigi dalam menghadirkan zero blank spot di sejumlah desa di Nusa Tenggara Barat (NTB) sebagai langkah penting dalam pemerataan akses digital. Meski begitu, ia mengingatkan masih ada wilayah yang kualitas jaringannya belum sepenuhnya merata.
Farah menyampaikan apresiasi itu saat Kunjungan Kerja Reses Komisi I DPR RI di Lombok Barat, NTB, Jumat (24/7/2026). Menurut dia, keberhasilan ini menunjukkan ada kemajuan nyata dibanding situasi tahun lalu yang masih menyisakan banyak titik lemah sinyal.
“Kami sangat mengapresiasi kinerja BAKTI yang berhasil membawa NTB memiliki zero blank spot untuk desa-desa di sini dan terus bisa menjaga jaringannya, walaupun tadi juga dikatakan masih terdapat 102 desa yang coverage-nya di bawah 100 persen,” ujar Farah.
Ia mengungkapkan, pada rapat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi NTB tahun sebelumnya masih ditemukan 33 titik blank spot dan 124 titik dengan sinyal lemah. Kini, kata dia, kondisi itu sudah berubah menjadi nol.
“Ini tentu prestasi yang harus diapresiasi karena tahun lalu masih ada 33 titik blank spot dan 124 titik sinyal lemah, dan sekarang sudah menjadi zero,” kata politikus Partai Amanat Nasional itu.
Namun Farah menegaskan, keberhasilan membangun jaringan telekomunikasi tidak cukup dilihat dari tersedianya infrastruktur semata. Ia meminta agar pemerintah juga mengukur dampaknya terhadap kesejahteraan warga.
Menurutnya, NTB memiliki sekitar 5,3 juta penduduk. Dari jumlah itu, sekitar 600 ribu jiwa atau 11 persen masih hidup di bawah garis kemiskinan. Karena itu, ia mempertanyakan sejauh mana pemerataan akses digital benar-benar membantu menurunkan angka kemiskinan di daerah tersebut.
“Salah satu fokus BAKTI adalah pemerataan akses untuk menekan angka kemiskinan. Jadi yang ingin saya tanyakan, apakah kita bisa melihat secara riil dampak aktivitas ini terhadap penurunan kemiskinan di NTB?” ujarnya.
Farah juga menyoroti dukungan BAKTI terhadap UMKM, terutama melalui pelatihan pemanfaatan teknologi digital di desa-desa. Ia mempertanyakan apakah program seperti digital marketing sudah berjalan dan memberi manfaat merata di seluruh NTB.
“Apakah pelatihan digital marketing kepada masyarakat desa sudah dilaksanakan dan berdampak secara menyeluruh di NTB? Jangan sampai ada ketimpangan, karena di wilayah seperti KEK Mandalika trafik ekonominya membaik, tetapi daerah lain seperti Dompu dan Bima tidak ikut terdorong,” katanya.
Selain soal pembangunan jaringan, Farah menilai edukasi pemanfaatan internet perlu diperkuat. Ia mengingatkan agar akses WiFi tidak hanya dipakai untuk hiburan atau media sosial, tetapi juga menjadi alat penggerak ekonomi warga.
“Harus ada edukasi agar WiFi ini tidak sekadar dipakai bermain media sosial, melainkan untuk kemajuan ekonomi, misalnya untuk digital branding dan live selling,” pungkasnya.


