Gonesia – Dosen Teknik Mesin dan Biosistem Institut Pertanian Bogor (IPB), Leopold Oscar Nelwan, menekankan pentingnya syarat teknis tertentu dalam pencampuran etanol dengan bahan bakar minyak (BBM). Pernyataan ini ia sampaikan menanggapi rencana Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang ingin mengimplementasikan etanol ke dalam BBM.
Menurut Leopold, etanol wajib memiliki kadar air kurang dari 0,3 persen volume per volume (v/v). Idealnya, kadar air campuran berada di bawah 0,15 persen massa per massa (m/m) seperti yang diterapkan pada E5.
Kadar air menjadi krusial karena etanol bersifat higroskopis, atau mudah menyerap air. Jika kadar air terlalu tinggi, campuran bensin-etanol berisiko mengalami pemisahan fasa yang dapat memicu korosi dan gangguan aliran bahan bakar pada kendaraan.
Selain itu, Leopold juga mendesak pemerintah untuk menyusun standar operasional prosedur (SOP) yang lebih ketat terkait pencampuran etanol ke dalam BBM. SOP ini penting untuk menjamin kualitas bahan bakar tetap stabil, terutama saat kandungan bioetanol lebih tinggi, serta meminimalkan penyerapan air dari udara lembap demi keamanan konsumen. Ia juga mengingatkan konsumen agar tidak terlalu lama membiarkan bahan bakar etanol tersimpan di tangki mobil tanpa digunakan, guna menghindari potensi masalah serupa pada biodiesel.
Di balik tantangan tersebut, penggunaan etanol dalam BBM menawarkan sejumlah keuntungan. Etanol berpotensi besar untuk meningkatkan proporsi energi terbarukan dan mendukung strategi nasional dalam mencapai target emisi nol bersih (net zero emission).
Kendati demikian, pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) sangat bergantung pada praktik budi daya bahan baku dan proses industri pengolahan etanol itu sendiri. Saat ini, bioetanol masih didominasi oleh biomassa generasi pertama, seperti tanaman penghasil gula dan pati, yang masih bersaing dengan kebutuhan pangan. Oleh karena itu, pengembangan bahan baku perlu diarahkan pada biomassa generasi kedua dan seterusnya agar tidak berkompetisi dengan pangan.
Secara ekonomi, pemanfaatan etanol dalam BBM dapat mengembangkan industri bioetanol domestik, membuka lapangan kerja yang melibatkan banyak pihak termasuk petani, serta memperkuat tingkat kemandirian energi Indonesia jika diproduksi secara penuh di dalam negeri.
Keunggulan lain dari etanol adalah kandungan angka oktan (RON) yang lebih tinggi, meskipun nilai kalornya sedikit lebih rendah dibanding bensin murni. Angka oktan yang tinggi ini memungkinkan campuran etanol dan bensin meningkatkan performa mesin berkompresi tinggi. Kendaraan modern dengan rasio kompresi besar justru akan diuntungkan dengan bahan bakar ber-RON tinggi seperti E10.
Penggunaan etanol dalam BBM bukanlah hal baru di Indonesia. Pertamina telah mengimplementasikannya melalui produk Pertamax Green 95, yang memiliki kadar etanol lima persen dan dikenal sebagai BBM Bensin E5. Penggunaan etanol lima persen ke dalam BBM juga telah diatur dalam Keputusan Dirjen Minyak dan Gas Bumi Nomor 252.K/HK.02/DJM/2023.


