New York, Gonesia.com – Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas secara drastis telah memicu aksi jual masif di Wall Street pada perdagangan Senin (13/7/2026).
Keputusan Presiden Donald Trump untuk memberlakukan kembali blokade pelabuhan Iran menjadi katalis utama yang mengguncang stabilitas pasar keuangan global.
Lonjakan harga minyak mentah sebesar 9,4% akibat terganggunya jalur logistik di Selat Hormuz memicu kekhawatiran investor mengenai potensi inflasi sistemik jangka panjang.
Indeks Nasdaq Composite yang sarat dengan perusahaan teknologi menjadi sasaran aksi jual terberat dengan koreksi sebesar 1,55% atau 408,43 poin ke level 25.873,18.
Indeks S&P 500 turut tertekan dengan pelemahan sebesar 0,79% ke posisi 7.515,47.
Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan penurunan yang lebih moderat sebesar 0,26% ke level 52.498,70 karena terbantu oleh kenaikan saham-saham sektor energi.
Sektor semikonduktor mengalami tekanan paling signifikan di tengah keraguan pasar terhadap keberlanjutan reli teknologi yang telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
” (Saham) benar-benar mencapai titik tertinggi pada akhir Mei, terutama didorong oleh sektor semikonduktor,” ujar Thomas Martin, manajer portofolio senior di GLOBALT di Atlanta.
Ia menambahkan bahwa kenaikan harga yang terlalu cepat telah memicu pertanyaan mendasar mengenai stabilitas pasar di masa depan.
“Ketika Anda menggerakkan sesuatu sejauh ini, secepat ini, Anda memunculkan pertanyaan: seberapa berkelanjutan hal itu?” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi pasar saat ini memiliki bantalan yang semakin tipis di tengah banyaknya ketidakpastian global.
“Jika pasar murah, itu akan menjadi hal yang berbeda,” imbuhnya.
“Sekarang bantalan lebih sedikit dan masih banyak hal yang tidak diketahui,” ungkapnya.
Indeks Semikonduktor SE Philadelphia mencatat penurunan kinerja yang cukup tajam dengan saham-saham seperti SanDisk, Marvell Technology, dan Intel melemah antara 6,1% hingga 12,6%.
Saham emiten chip asal Korea Selatan, SK Hynix, yang baru melantai di Nasdaq juga merosot 9,3% setelah sempat mencatatkan debut impresif pada akhir pekan lalu.
Pasar kini tengah menantikan kesaksian perdana Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, di hadapan Kongres terkait dampak ekonomi dari konflik AS-Iran.
Data inflasi dari indeks harga konsumen (CPI) dan produsen (PPI) yang akan segera dirilis juga menjadi perhatian utama pelaku pasar untuk memantau tekanan harga.
Selain itu, investor mulai mengalihkan fokus pada rilis laporan keuangan kuartal kedua dari institusi perbankan besar seperti JPMorgan Chase dan Goldman Sachs.
Analis strategi investasi di Baird di Louisville, Kentucky, Ross Mayfield, menyatakan keraguannya terhadap aksi korporasi yang fokus pada belanja modal kecerdasan buatan atau AI.
“Saya bertanya-tanya apakah pasar akan benar-benar mulai sedikit memberontak terhadap banjir penerbitan korporasi untuk mendanai belanja modal AI yang telah dipertanyakan selama beberapa tahun terakhir,” ujar dia.
Ia menilai bahwa laporan keuangan dari bank-bank besar akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi neraca keuangan korporasi saat ini.
“Akan menarik untuk melihat ke depannya bagaimana bank-bank besar berbicara tentang obligasi korporasi, pendapatan tetap, dan apa yang mereka miliki di neraca mereka atau tidak,” pungkasnya.


