Padang – Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki memimpin rapat koordinasi daring untuk mempercepat pembersihan material kayu sisa banjir bandang di beberapa wilayah Sumatera dan Aceh. Prioritas utama adalah menuntaskan pembersihan di pesisir Padang dalam waktu 4-5 hari ke depan.
Rapat yang digelar Minggu (21/12/2025) ini melibatkan perwakilan pemerintah daerah, BNPB, TNI, dan Polri. Fokus utama adalah penambahan alat berat di wilayah terdampak, termasuk Padang (Sumatera Barat), Aceh Tamiang dan Aceh Utara (Aceh), serta Tapanuli Selatan (Sumatera Utara).
Rohmat menekankan pentingnya pemanfaatan kayu-kayu yang terkumpul untuk membantu pembangunan hunian sementara bagi korban banjir.
Di Sumatera Barat, pembersihan material kayu di pesisir Padang sudah dimulai dengan mengerahkan delapan excavator dan melibatkan partisipasi masyarakat.
Untuk Aceh Tamiang, fokus pembersihan berada di kawasan Pesantren Darul Muchsin. Luas tumpukan kayu di lokasi ini mencapai sekitar dua hektare dengan ketinggian hingga empat meter dan volume sekitar 80 ribu meter kubik. Delapan unit excavator akan dioperasikan dan bantuan satu kompi Brimob telah disiapkan.
Sementara itu, di Aceh Utara, tiga alat berat telah membersihkan masjid utama agar dapat kembali digunakan masyarakat. Pemerintah menjanjikan penambahan alat berat menjadi tujuh unit untuk mempercepat penyelesaian pembersihan.
Di Sumatera Utara, pembersihan material kayu di Sungai Garoga telah berjalan hampir 20 hari. Meskipun tersisa kurang dari 20 persen material dari kondisi awal, akses yang sulit menjadi kendala utama dalam mempercepat proses pembersihan.
Wamenhut menginstruksikan pemantauan dengan drone untuk mengidentifikasi potensi bahaya kayu tersisa di hulu sungai. Kayu-kayu tersebut rencananya akan dicacah untuk mengurangi risiko terbawa air sungai jika curah hujan kembali meningkat.
Tiga prioritas utama di Garoga adalah pembersihan di hilir, pemantauan titik longsoran di hulu, serta pemberian peringatan dini kepada masyarakat terkait potensi banjir susulan.
Pemerintah mempersilakan material kayu sisa banjir dimanfaatkan untuk membantu pembangunan pascabencana sebagai bagian dari upaya pemulihan terpadu dan berkelanjutan.


