Jakarta, Gonesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih akan mengalami tekanan jual yang cukup intensif pada perdagangan hari ini, Rabu (23/9), setelah sebelumnya ditutup terkoreksi sebesar 1,69% ke posisi 6.277.
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menyatakan bahwa IHSG kini menghadapi tantangan teknikal yang berat karena pergerakannya telah menembus area Moving Average 60 (MA60).
Ia menjelaskan bahwa secara teknikal, posisi indeks saat ini sedang berada pada bagian dari wave a dari wave (x).
Kondisi tersebut memaksa IHSG untuk melakukan pengujian awal pada rentang area 6.208 hingga 6.258.
“Area penguatan terdekat IHSG berada di 6.333–6.364,” ujar Herditya dalam risetnya.
Pihaknya menetapkan target area support IHSG berada di kisaran 6.267 hingga 6.108.
Sementara itu, level resistance diperkirakan berada pada rentang 6.440 hingga 6.535.
Support sendiri merupakan area harga saham tertentu yang diyakini sebagai titik terendah pada satu waktu di mana daya beli biasanya meningkat.
Sedangkan resistance adalah tingkat harga saham tertentu yang dinilai sebagai titik tertinggi di mana aksi jual cenderung terjadi.
Di tengah ketidakpastian pasar, MNC Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy untuk saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Saham tersebut disarankan masuk di rentang Rp 1.290 hingga Rp 1.305 dengan target harga di Rp 1.350 hingga Rp 1.375.
Investor juga diminta memperhatikan level stoploss untuk saham AMRT di bawah harga Rp 1.280.
Selain itu, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) mendapatkan rekomendasi buy on weakness.
Saham ini disarankan untuk dibeli pada area Rp 1.790 hingga Rp 1.810 dengan target harga di Rp 1.890 hingga Rp 1.955.
Untuk TPIA, investor disarankan memasang stoploss di bawah harga Rp 1.765.
Sentimen negatif lainnya datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang membebani pergerakan indeks.
Phintraco Sekuritas mencatat bahwa secara teknikal, IHSG kini telah ditutup di bawah MA100 dan MA60.
Mereka memperkirakan IHSG berpotensi menguji level yang lebih rendah yakni 6.186 hingga 6.200 pada perdagangan hari ini.
Perhatian pelaku pasar saat ini juga tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan diumumkan hari ini.
BI diperkirakan akan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75%.
Keputusan ini dinilai strategis mengingat The Fed baru saja memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4%.
“Melebarnya spread di tahun berjalan ini bertujuan memberikan interest rate differential yang cukup menarik bagi investor asing untuk memperkuat stabilitas mata uang Rupiah,” papar Phintraco dalam analisisnya.
Bank Indonesia diperkirakan hanya akan menaikkan suku bunga jika terjadi pelemahan rupiah yang drastis atau inflasi melonjak di atas target.
Di sisi lain, investor juga tengah menanti data pertumbuhan kredit yang diproyeksikan meningkat hingga 15% secara tahunan (YoY) pada Agustus lalu.
Phintraco Sekuritas merekomendasikan sejumlah saham untuk dicermati, di antaranya PT Indosat Tbk (ISAT) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Daftar rekomendasi tersebut juga mencakup PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA), PT Asri Karya Lestari Tbk (ASLI), serta PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).


