Jakarta, Gonesia.com – Dua petinggi PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR) mencatatkan keuntungan investasi fantastis setelah berhasil mengakuisisi saham perusahaan melalui skema transaksi harga diskon yang jauh di bawah nilai pasar saat ini.
Keuntungan tersebut tercermin dari selisih harga yang sangat lebar antara nilai perolehan dengan harga penutupan saham di Bursa Efek Indonesia.
Dani Samsul Ependi, salah satu direktur di perusahaan penyedia infrastruktur serat optik tersebut, tercatat menambah porsi kepemilikan sahamnya secara signifikan.
Ia diketahui membeli sebanyak 48.301.257 lembar saham KETR pada tanggal 17 September 2026.
Transaksi tersebut dilakukan dengan mengakuisisi saham milik pemegang saham pengendali, yakni PT Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara.
Dani merogoh kocek sebesar Rp200 per lembar saham dalam aksi korporasi ini.
Nilai total dari transaksi pembelian saham tersebut mencapai angka sekitar Rp9,66 miliar.
Sebelum eksekusi transaksi tersebut, Dani tercatat tidak memiliki kepemilikan saham sama sekali di dalam struktur permodalan KETR.
Kini, kepemilikannya di perusahaan tersebut mencapai 1,70% dari total hak suara yang beredar.
Strategi pembelian dengan harga miring ini tidak dilakukan sendirian oleh Dani.
Ia mengikuti langkah rekan sejawatnya, Vidcy Octory, yang terlebih dahulu melakukan transaksi serupa.
Vidcy tercatat telah membeli jumlah saham yang sama persis dengan Dani, yakni 48.301.257 lembar saham.
Transaksi yang dilakukan Vidcy terjadi pada 14 September 2026 dengan harga per lembar yang juga dipatok di angka Rp200.
Fenomena ini menegaskan adanya pola pengalihan saham dari pihak pengendali kepada jajaran direksi dengan harga yang sangat kompetitif.
Berdasarkan data perdagangan pada Senin, 21 September 2026, saham KETR ditutup pada level Rp975 per lembar.
Jika dibandingkan dengan harga perolehan direksi yang hanya Rp200, terdapat selisih harga mencapai Rp775 per saham.
Hal ini berarti harga transaksi tersebut hanya bernilai sekitar 20,5% dari harga pasar yang berlaku saat ini.
Dengan demikian, para direktur tersebut mendapatkan potongan harga atau diskon sekitar 79,5% dari harga pasar.
Kondisi tersebut secara otomatis memberikan keuntungan berupa capital gain yang belum terealisasi sebesar 367,5% dalam hitungan hari.
Di sisi lain, posisi pemegang saham pengendali, Fajar Sejahtera Mandiri Nusantara, mengalami penurunan porsi kepemilikan.
Sebelum melepas sahamnya kepada para direktur, mereka menguasai 1.557.864.674 saham atau setara 54,83% hak suara.
Setelah melepaskan sebanyak 96,6 juta lembar saham kepada dua direktur tersebut, kepemilikan mereka menyusut menjadi 53,13%.
Struktur pemegang saham KETR kini mencakup PT Gema Lintas Benua dengan porsi 9,64% dan PT Ascendia Capital Indonesia dengan 5,09%.
Sisa kepemilikan saham lainnya tersebar di tangan publik, termasuk porsi yang kini dimiliki oleh jajaran direksi.
Pergerakan harga saham KETR sendiri sepanjang tahun 2026 tercatat mengalami tekanan dengan akumulasi penurunan sebesar 14,22%.
Meskipun demikian, transaksi internal yang dilakukan jajaran direksi ini menjadi sorotan karena kesenjangan harga yang sangat kontras dengan harga di papan bursa.


