PANDEGLANG, Gonesia.com – Tim SAR Gabungan memutuskan untuk memperpanjang durasi operasi pencarian delapan korban hilang di perairan Selat Sunda selama tiga hari ke depan, terhitung mulai Selasa (15/9/2026).
Keputusan ini diambil setelah evaluasi mendalam menunjukkan perlunya perluasan cakupan wilayah penyisiran hingga ke perbatasan Samudra Hindia.
Langkah tersebut diambil untuk menyesuaikan dengan prediksi pergeseran arus laut yang diyakini membawa objek pencarian menjauh dari titik awal keberangkatan.
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, mengonfirmasi perpanjangan masa operasi ini saat memberikan keterangan kepada JPNN.com di Pandeglang, Banten, pada Senin (14/9).
“Hari ke-6 hari ke-7 sebenarnya kami sudah masuk di samudra Hindia, kami berdasarkan dengan pengamatan pergeseran arus. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan tim dalam menentukan area pencarian berikutnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa area pencarian kini difokuskan berdasarkan hasil analisis data arus serta evaluasi menyeluruh terhadap operasi yang telah berlangsung selama tujuh hari terakhir.
Pihaknya tetap mengandalkan kombinasi antara pemantauan udara dan penyisiran laut menggunakan kapal cepat.
Namun, efektivitas kedua metode ini sangat bergantung pada kondisi cuaca yang sering kali berubah secara ekstrem di kawasan tersebut.
Dia mengungkapkan bahwa tantangan cuaca menjadi kendala utama sejak awal proses pencarian dimulai.
Operasi pada hari pertama dan kedua sebelumnya sempat terhambat oleh kondisi Gunung Anak Krakatau yang tidak kondusif bagi keselamatan tim.
Memasuki hari ketiga hingga keenam, kendala beralih pada pekatnya kabut yang menyelimuti perairan.
“Pada hari kelima, helikopter masih dapat melakukan pencarian namun dengan jarak pandang sekitar 1,5 kilometer pada ketinggian 500 kaki. Namun, pada hari keenam, helikopter yang telah disiapkan tidak dapat diterbangkan karena kondisi kabut,” paparnya.
Terkait metode penyelaman, ia menegaskan bahwa langkah tersebut belum memungkinkan untuk dilakukan saat ini.
Penyelaman baru akan dilakukan apabila lokasi pasti keberadaan korban atau kapal cepat yang mereka tumpangi telah terdeteksi.
“Kalau untuk metode penyelaman karena titik korban belum kami temukan, belum bisa kami pastikan untuk penyelaman. Namun tim kami tetap siap sampai dengan hal tersebut,” ucapnya.
Delapan orang yang masih dalam status pencarian ini dilaporkan hilang sejak bertolak dari Dermaga Pegedongan, Carita, pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB.
Rombongan tersebut menggunakan kapal cepat dengan tujuan awal menuju kawasan Gunung Anak Krakatau.
Lima orang di antaranya merupakan jurnalis dari berbagai media, yakni M. Bagus Khoirunnas (ANTARA), Ari Basuki (Merdeka), Yudhistiro Pranoto (iNews), Firman Daus (Anadolu), dan jurnalis lepas Donal Husni.
Selain kelima jurnalis tersebut, tiga orang lainnya adalah awak kapal yang terdiri dari nakhoda Warta, anak buah kapal Surakman, serta pemandu perjalanan Heriyanto.
Hingga saat ini, Tim SAR Gabungan terus mengevaluasi setiap petunjuk yang ditemukan di lapangan untuk mempersempit area pencarian.


