NEW YORK, Gonesia.com – Bursa saham Wall Street mengalami tekanan jual yang signifikan pada perdagangan Selasa (15/9/2026) setelah para eksekutif puncak perusahaan kecerdasan buatan menyuarakan kekhawatiran mendalam mengenai keselamatan teknologi masa depan.
Sentimen negatif tersebut memicu aksi ambil untung pada saham-saham sektor teknologi yang selama ini menjadi motor penggerak utama pasar.
Indeks S&P 500 mencatatkan penurunan sebesar 0,48% ke level 7.619,94.
Indeks Nasdaq merosot 0,56% menjadi 26.186,41 poin.
Indeks Dow Jones Industrial Average turut melemah 0,29% dan parkir di level 52.421,17.
Data dari Reuters menunjukkan bahwa delapan dari 11 indeks sektor S&P 500 berakhir di zona merah.
Sektor teknologi informasi menjadi pemberat utama dengan koreksi sebesar 1,68%.
Sektor industri menyusul di posisi berikutnya dengan penurunan sebesar 1,44%.
Volume perdagangan di bursa Amerika Serikat tercatat mencapai 15,3 miliar saham.
Angka tersebut berada di atas rata-rata 14,8 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.
Tekanan pasar semakin berat seiring dengan lonjakan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun yang sempat menembus angka psikologis 5%.
Kenaikan imbal hasil obligasi ini merupakan level tertinggi yang pernah dicapai sejak tahun 2023.
Investor kini bersikap sangat waspada menjelang pertemuan kebijakan Federal Reserve yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Bank sentral Amerika Serikat tersebut diprediksi secara luas akan kembali menaikkan suku bunga acuan.
Kecemasan investor dipicu oleh peringatan dari pemimpin Anthropic, OpenAI, dan xAI mengenai risiko perkembangan AI yang terlalu pesat.
Pernyataan tersebut mengguncang kepercayaan pasar terhadap industri yang selama ini telah menyerap investasi miliaran dolar.
Saham Nvidia terpantau anjlok 3,4% akibat sentimen tersebut.
Micron Technology mengalami pelemahan lebih dalam dengan penurunan sebesar 5%.
Broadcom dan Advanced Micro Devices masing-masing mencatatkan penurunan di atas 4%.
Secara keseluruhan, indeks saham PHLX anjlok tajam sebesar 5,9%.
Kondisi ini memangkas akumulasi kenaikan indeks tersebut sepanjang tahun 2026 menjadi 57%.
Di sisi lain, saham sektor perangkat lunak seperti ServiceNow, Adobe, dan Workday justru menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan antara 4% hingga 7,4%.
Namun, analis menilai kenaikan tersebut masih dibayangi risiko persaingan ketat yang dapat menekan margin keuntungan perusahaan di masa depan.
Ketegangan geopolitik turut memengaruhi pasar dengan kenaikan harga minyak mentah Brent sebesar 1% ke level US$ 105,68 per barel.
Lonjakan harga energi ini dipicu oleh kekhawatiran pasokan setelah adanya serangan terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi dan kapal-kapal di Timur Tengah.
Kombinasi inflasi tinggi, beban utang pemerintah yang masif, dan ketidakpastian fiskal AS menjadi pemicu utama kenaikan imbal hasil obligasi selama sebulan terakhir.
Ambang batas imbal hasil 5% dinilai para analis sebagai ancaman nyata bagi daya tarik pasar saham Amerika Serikat.
Pasar saat ini memperkirakan peluang sebesar 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada hari Rabu.
Langkah tersebut dianggap perlu untuk meredam inflasi yang dipicu oleh tingginya harga minyak dunia.
“Kenaikan imbal hasil obligasi 10 tahun di atas 5% adalah hal yang besar dan sangat berarti, dan ini mungkin akan menekan The Fed untuk melakukan lebih dari sekadar satu kenaikan suku bunga,” ujar Jake Dollarhide, CEO Longbow Asset Management.


