IDCloudHost | SSD Cloud Hosting Indonesia
News

Menlu Iran Ungkap Isi Negosiasi dengan Utusan AS Steve Witkoff

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi saat memberikan keterangan mengenai negosiasi dengan utusan AS.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memaparkan dinamika perundingan dengan utusan AS, Steve Witkoff.

Teheran, Gonesia.com – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara terbuka memaparkan dinamika negosiasi alot antara Teheran dan Washington yang mendahului eskalasi konflik militer di Timur Tengah.

Ia mengungkapkan bahwa diplomasi tersebut menemui jalan buntu setelah Iran secara tegas menolak tuntutan Amerika Serikat untuk menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium.

Menurut laporan JawaPos, Araghchi menegaskan bahwa penolakan terhadap syarat tersebut menjadi titik balik yang memicu pergeseran strategi Amerika Serikat dari meja perundingan ke tindakan militer.

“Sebagai tanggapan atas tuntutan yang ilegal dan tidak masuk akal untuk menghentikan pengayaan uranium hingga nol, kami melawan dan tetap teguh. Ketika mereka melihat tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui negosiasi, mereka memulai perang,” kata Araghchi.

Ia memastikan bahwa keteguhan sikap pemerintah Iran dalam mempertahankan kedaulatan nuklirnya tidak goyah meski berada di bawah tekanan diplomatik yang intens.

Prabowo Percepat Reformasi Birokrasi dan Terapkan Single National Identity Card

Ia menambahkan bahwa kegagalan Washington dalam menekan Teheran melalui diplomasi akhirnya bermuara pada konflik bersenjata selama 12 hari yang diklaim sebagai kekalahan pihak lawan.

“Mereka kalah dalam perang 12 hari,” ujarnya.

Dalam narasi yang lebih personal, Araghchi menceritakan momen ketegangan saat ia berhadapan langsung dengan utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff.

Ia menyoroti atmosfer mencekam di mana para pejabat Iran harus bekerja di bawah ancaman serangan fisik yang konstan selama periode konflik berlangsung.

“Pernahkah Anda berada dalam sebuah pertemuan dan setiap saat berpikir ruangan itu bisa dibom? Mereka hanya menatap saya tanpa berkata apa-apa,” tutur Araghchi.

KPK OTT Bupati Lombok Barat Terkait Kasus Suap Proyek

Ia melanjutkan dengan memberikan penekanan pada aspek psikologis yang dialami oleh para pemimpin Iran saat berkomunikasi dengan keluarga di tengah situasi perang yang tidak menentu.

“Saya berkata, pernahkah Anda berbicara melalui telepon sambil berpikir bahwa setiap saat Anda bisa meledak? Pernahkah Anda menghubungi keluarga dan berpikir itu mungkin percakapan terakhir? Kami mengalami semua itu dan tetap bertahan. Anda harus berbicara kepada kami dengan cara yang berbeda. Anda tidak bisa mengancam kami, dan Anda tidak bisa menyuap kami,” tegasnya.

Selain ancaman, ia mengungkap adanya tawaran pembangunan infrastruktur dan pembangkit listrik dari Amerika Serikat yang dimaksudkan sebagai insentif kesepakatan.

Ia menegaskan bahwa segala bentuk tawaran tersebut ditolak mentah-mentah karena dianggap sebagai upaya suap yang tidak akan memengaruhi posisi Iran.

“Saya mengatakan tidak ada suap, tidak ada ancaman. Anda hanya bisa mengancam seseorang yang takut. Ketika kami datang dengan kesadaran bahwa apa pun bisa terjadi kepada kami setiap saat, Anda tidak akan bisa menakut-nakuti saya,” katanya.

KPK Ungkap Penyebab Utama Korupsi Kepala Daerah Akibat Mahalnya Ongkos Politik

Dalam kesempatan yang sama, ia turut membandingkan situasi Iran dengan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pihak Amerika Serikat beberapa waktu lalu.

Ia menolak keras jika Iran disamakan dengan preseden di Venezuela di mana ketakutan dianggap dapat melumpuhkan pemerintahan suatu negara.

“Ini bukan Venezuela, tempat Anda membawa satu orang lalu semua orang menjadi takut dan mundur,” ujar Araghchi.

Ia menilai bahwa Amerika Serikat dan Israel telah melakukan kalkulasi yang keliru dalam meremehkan ketahanan sistem Republik Islam Iran.

Ia menyebut Israel sempat memperkirakan bahwa serangan singkat akan cukup untuk melumpuhkan infrastruktur dan memicu keruntuhan pemerintahan dari dalam.

“Rezim Zionis berpikir dengan serangan singkat mereka bisa menghancurkan segalanya, membongkarnya, lalu sistem akan runtuh dan Republik Islam menyerah.”

Namun, ia mengklaim bahwa dukungan rakyat terhadap pemerintah tetap solid sehingga skenario yang diharapkan pihak lawan tidak pernah terwujud.

“Ketika itu tidak terjadi, karena mereka tidak siap menghadapi perang yang berkepanjangan dan masyarakat tidak berbalik melawan sistem, mereka akhirnya terpaksa menghentikan perang,” kata Araghchi.

Komentar